31 Maret 2017

PEMEROLEHAN BAHASA

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
MEMAHAMI HAKIKAT BAHASA DAN PEMEROLEHAN BAHASA
a. Hakikat Pemerolehan Bahasa
            Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal. Lyons (1981:252) menyatakan suatu bahasa yang digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa disebut pemerolehan bahasa. Artinya, seorang penutur bahasa yang dipakainya tanpa terlebih dahulu mempelajari bahasa tersebut. Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya. Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam diri seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan hasil kontak verbal dengan penutur asli lingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah pemerolehan bahasa mengacu ada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari.
            Pada hakikatnya pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. 

b. Teori Pemerolehan Bahasa Anak
            Berikut ini adalah beberapa teori pemerolehan bahasa pada anak diantaranya yaitu:

1) Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.

Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila sutu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.

B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar.

Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa toeri yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini.

Aliran behaviorisme mengatakan bahwa semua ilmu dapat disederhanakan menjadi hubungan stimulus-response. Hal tersebut tidaklah benar karena tidak semua perilaku berasal dari stimulus-response.

2)Teori Nativisme

            Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.

Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya.

Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33).

Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.

3) Teori Kognitivisme

Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

            Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

4) Teori Interaksionisme

            Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.

Sebenarnya, menurut hemat penulis, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa si anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk., 2006: 2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang memperngaruhi kemampuan berbahasa si anak. Banyak penemuan yang telah membuktikan hal ini.




HAKIKAT BAHASA




Hakikat Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana: 1983). Ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa yaitu: (1) bahasa adalah sebuah sistem, (2) bahasa berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, dan (12) bahasa itu manusiawi.

a. Bahasa itu adalah Sebuah Sistem

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.

b. Bahasa itu Berwujud Lambang

Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmusemiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

c. Bahasa itu Berupa Bunyi

Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

d. Bahasa itu Bersifat Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung signifiant.

Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.

e. Bahasa itu Bermakna

Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa. [kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa
[dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa

f. Bahasa itu Bersifat Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.

g. Bahasa itu Bersifat Unik

Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

h. Bahasa itu Bersifat Universal

Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

i. Bahasa itu Bersifat Produktif

Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:

  1. /i/-/k/-/a/-/t/ 
  2. /k/-/i/-/t/-/a/
  3. /k/-/i/-/a/-/t/
  4. /k/-/a/-/i/-/t/
    j. Bahasa itu Bervariasi
    Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:
  1. Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan. 
  2. Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
  3. Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak baku.
    k. Bahasa itu Bersifat Dinamis
    Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan perubahan-perubahan lainnya.
    l. Bahasa itu Manusiawi
    Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

PARAGRAF

Seri Penyuluhan Bahasa IndonesiaPusat Pembinaan
Badon Pengembangan don Pembinaan
BahasaKementerian Pendidikan don Kebudayaan
Jakarta
2015

iSeri Penyuluhan Bahasa IndonesiaPARAGRAFSuladi
Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta
2014

iiKATA PENGANTARPenggunaan bahasa Indonesia saat ini dalam kondisi yang
memprihatinkan. Kita menyaksikan di ruang-ruang publik
bahasa Indonesia nyaris tergeser oleh bahasa asing. Ruang
publik yang seharusnya merupakan ruang yang menunjukkan
identitas keindonesiaan melalui penggunaan bahasa
Indonesia ternyata sudah banyak disesaki oleh bahasa asing.
Berbagai papan nama, baik papan nama pertokoan, restoran,
pusat-pusat perbelanjaan, hotel, perumahan, periklanan,
maupun kain rentang hampir sebagian besar tertulis dalam
bahasa asing.
Mutu penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai
ranah, baik ranah kedinasan, pendidikan, jurnalistik,
ekonomi, maupun perdagangan, juga belum membanggakan.
Di dalam berbagai ranah tersebut, campur aduk penggunaan
bahasa masih terjadi. Berbagai kaidah yang telah berhasil
dibakukan dalam pengembangan bahasa juga belum
sepenuhnya diindahkan oleh para pengguna bahasa.
Sementara itu, para pejabat negara, para cendekia, dan
tokoh masyarakat, termasuk tokoh publik, yang seharusnya
memberikan keteladanan dalam berbahasa Indonesia
ternyata juga belum dapat memenuhi harapan masyarakat.
Penghargaan kebahasaan yang pernah diberikan kepada para
tokoh masyarakat tersebut tampaknya belum mampu
memotivasi mereka untuk memberikan keteladanan dalam
berbahasa Indonesia.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa
upaya pembinaan bahasa Indonesia pada berbagai lapisan

iii
masyarakat masih menghadapi tantangan yang cukup berat.
Oleh karena itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa—melalui Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan—
masih perlu bekerja keras untuk membangkitkan kembali
kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap bahasa
Indonesia. Upaya itu ditempuh melalui peningkatan sikap
positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia dan
peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia dalam
berbagai ranah. Upaya itu juga dimaksudkan agar kedudukan
dan fungsi bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional
maupun bahasa negara, makin mantap di tengah terpaan
gelombang globalisasi saat ini.
Untuk mewujudkan itu, telah disediakan berbagai
bahan rujukan kebahasaan dan kesastraan, seperti (1)
pedoman ejaan, (2) tata bahasa baku, (3) pedoman istilah, (4)
glosarium, (5) kamus besar bahasa Indonesia, dan (6)
berbagai kamus bidang ilmu. Selain itu, juga telah dilakukan
berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan, seperti
pembakuan kosakata dan istiah, penyusunan berbagai
pedoman kebahasaan, dan pemasyarakatan bahasa Indonesia
kepada berbagai lapisan masyarakat.
Terkait dengan kegiatan pemasyarakatan bahasa
Indonesia, terutama yang berupa penyuluhan bahasa, juga
telah disusun sejumlah bahan dalam bentuk seri penyuluhan
bahasa Indonesia. Salah satu di antaranya adalah
Seri
Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf
ini. Hadirnya buku
seri penyuluhan ini dimaksudkan sebagai bahan penguatan
dalam pelaksanaan kegiatan pemasyarakatan bahasa
Indonesia yang baik dan benar kepada berbagai lapisan
masyarakat.
Penerbitan buku ini tidak terlepas dari kerja keras
penyusun, yaitu Drs. Suladi, M.Pd., dan penyunting, Kity

iv
Karenisa, S.S. Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan kepada yang bersangkutan.
Mudah-mudahan buku ini bermanfaat, baik bagi
masyarakat maupun penyuluh bahasa yang bertugas di
lapangan.
Jakarta, November 2014
Dra. Yeyen Maryani, M.Hum.Kepala Pusat Pembinaan
dan Pemasyarakatan

vDAFTAR ISIKata Pengantar ------------------------------------------------------- ii
Daftar Isi -------------------------------------------------------------- v
BAB I HAKIKAT PARAGRAF
1.1 Pengertian Paragraf --------------------------------------------- 1
1.2 Gagasan Utama dan Kalimat Topik -------------------------- 2
1.3 Struktur Paragraf ------------------------------------------------ 4
1.4 Paragraf yang baik ---------------------------------------------- 12
1.4.1 Kesatuan ------------------------------------------------------- 12
1.4.2 Kepaduan ------------------------------------------------------ 15
1.4.2.1 Kata Transisi ------------------------------------------------ 16
1.4.2.2 Referensi ---------------------------------------------------- 25
1.4.2.3 Substitusi ---------------------------------------------------- 31
1.4.2.4 Elipsis -------------------------------------------------------- 33
1.4.2.5 Sinonim ------------------------------------------------------ 34
1.4.2.7 Antonim ------------------------------------------------------ 35
1.4.2.8 Hiponim ------------------------------------------------------ 41
1.4.2.9 Kemeroniman ----------------------------------------------- 43
1.4.2.9 Repetisi ------------------------------------------------------- 45
1.4.3 Kelengkapan dan ketuntasan -------------------------------- 46
1.4.4 Keruntutan ----------------------------------------------------- 47
1.4.5 Konsistensi ----------------------------------------------------- 49

vi
BAB II JENIS PARAGRAF
2.1 Berdasarkan Pola Pernalaran ---------------------------------- 53
2.1.1 Deduktif ------------------------------------------------------- 53
2.1.2. Induktif -------------------------------------------------------- 54
2.1.3 Deduktif-Induktif -------------------------------------------- 56
2.1.4 Ineratif --------------------------------------------------------- 57
2.1.5 menyebar ------------------------------------------------------ 58
2.2 Berdasarkan Gaya Ekspresi/Pengungkapan ----------------- 59
2.2.1 Narasi ----------------------------------------------------------- 59
2.2.2 Deskripsi ------------------------------------------------------- 62
2.2.3 Eksposisi ------------------------------------------------------- 66
2.2.4 Persuasi --------------------------------------------------------- 72
2.2.5 Argumentasi --------------------------------------------------- 74
2.3 Berdasarkan Urutan --------------------------------------------- 75
2.3.1 Paragraf Pembuka -------------------------------------------- 76
2.3.2 Paragraf Isi ----------------------------------------------------- 77
2.3.3 Paragraf Penutup ---------------------------------------------- 79
BAB III PENGEMBANGAN PARAGRAF
3.1 Kronologi --------------------------------------------------------- 82
3.2 Ilustrasi ----------------------------------------------------------- 83
3.3 Definisi ----------------------------------------------------------- 84
3.4 Analogi ----------------------------------------------------------- 86
3.5 Perbandingan dan Pengontrasan ------------------------------ 87
3.6 Sebab-Akibat ---------------------------------------------------- 89
3.7 Pembatas Satu Per Satu/Contoh ------------------------------- 90
3.8 Repetisi ----------------------------------------------------------- 92
3.9 Kombinasi -------------------------------------------------------- 92

vii
BAB IV PERNALARAN
4.1 Induktif ----------------------------------------------------------- 94
4.1.1 Pernalaran Induktif Analogi --------------------------------- 95
4.1.2 Pernalaran Induktif Generalisasi ---------------------------- 96
4.1.2 Pernalaran Induktif Sebab-Akibat -------------------------- 98
4.2 Deduktif ---------------------------------------------------------- 101
4.2.1 Silogisme ------------------------------------------------------- 102
4.2.2 Entimen -------------------------------------------------------- 104
Daftar Pustaka -------------------------------------------------------- 106

I. HAKIKAT PARAGRAF
1.1 Pengertian Paragraf
Di dalam sebuah tulisan atau karangan biasanya
terdapat bagian yang agak menjorok ke dalam. Bagian
yang secara fisik sudah tampak dengan nyata karena
adanya tanda menjorok itu disebut paragraf. Dengan kata
lain, batas-batas paragraf ditandai indensi (dimulai pada
huruf ke sekian dari margin kiri).
Hakikat paragraf sebenarnya tidak sesederhana itu.
Paragraf merupakan miniatur dari suatu karangan. Syaratsyarat sebuah karangan ada pada paragraf. Memahami
seluk beluk paragraf berarti juga memahami miniatur dari
sebuah bangun yang disebut karangan. Terampil membangun paragraf berarti terampil pula membangun
miniatur karangan dalam ukuran yang lazim. Hal ini
berarti bahwa paragraf merupakan dasar utama bagi
kegiatan karang-mengarang.
Untuk dapat memahami paragraf secara baik, kita
perlu mengetahui batasan-batasan paragraf. Banyak pendapat mengenai pengertian dan batasan paragraf. Meskipun demikian, intisari dari pendapat-pendapat tersebut
adalah sama. Pada dasarnya paragraf merupakan seperangkat kalimat yang saling berhubungan yang secara
bersama dipakai untuk menyatakan atau mengembangkan

2
sebuah gagasan. Paragraf merupakan inti penuangan buah
pikiran dalam sebuah karangan dan didukung oleh himpunan kalimat yang saling berhubungan untuk membentuk
sebuah gagasan.
Dalam sebuah karangan/tulisan, paragraf mempunyai fungsi memudahkan pengertian dan pemahaman
dengan memisahkan satu topik atau tema dengan topik
atau tema yang lain karena setiap paragraf hanya boleh
mengandung satu unit pikiran atau ide pokok. Ide pokok
tersebut berfungsi sebagai pengendali informasi yang
diungkapkan melalui sejumlah kalimat.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan hal-hal
berikut.
1. Paragraf mempunyai ide pokok (gagasan utama) yang
dikemas dalam kalimat topik. Bagi penulis, ide pokok
itu menjadi pengendali untuk kalimat-kalimat penjelas/pengembang agar tidak keluar dari pokok pembicaraan. Sementara itu, bagi pembaca ide pokok itu
menjadi penuntun dalam memahami isi karena di
situlah inti informasi yang ingin disampaikan penulis.
2. Salah satu dari sekumpulan kalimat dalam paragraf
merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat-kalimat
lainnya merupakan pengembang yang berfungsi memperjelas atau menerangkan kalimat topik.
1.2 Gagasan Utama dan Kalimat TopikDalam sebuah paragraf, inti permasalahan terdapat
pada topik utama atau pikiran utama. Semua pembicaraan
dalam paragraf terpusat pada pikiran utama. Pikiran utama
inilah yang menjadi pokok persoalan atau pokok perbincangan sehingga juga sering disebut gagasan pokok,
gagasan utama, atau ide pokok. Gagasan utama tersebut
dikemas dalam sebuah kalimat topik.

3
Fungsi kalimat topik sangat penting, yaitu memberitahukan kepada pembaca mengenai apa yang diperbincangkan di dalam paragraf itu. Bagi penulis kalimat
topik berfungsi sebagai pengendali atau pengontrol
terhadap permasalahan yang akan dibicarakan di situ.
Dengan kata lain, kalimat topik berfungsi sebagai pemberi
arah terhadap semua permasalahan yang dituliskan di
dalam paragraf itu. Bagi paragraf itu sendiri, kalimat topik
berfungsi sebagai sandaran bagi kalimat-kalimat lain di
dalam paragraf itu. Kalimat-kalimat lain akan selalu
bertolak dari gagasan yang terdapat di dalam kalimat topik
itu. Semua kalimat yang membina paragraf itu secara
bersama-sama menyatakan satu hal atau satu tema
tertentu.
Untuk membuat paragraf, kalimat topik harus dikembangkan dengan kalimat-kalimat penjelas. Pengembangan paragraf dilakukan untuk memerinci secara cermat
gagasan utama yang terkandung dalam kalimat topik.
Dalam perincian itu terangkai sejumlah informasi yang
terhimpun menurut kerangka dan tahapan tertentu. Dengan
menuliskannya dalam kalimat-kalimat penjelas, informasi
itu disampaikan secara logis, dijalin secara berurutan, dan
ditautkan secara tertib.
Dalam pembuatan paragraf, gagasan utama yang
dituangkan dalam kalimat topik dapat diletakkan pada
bagian awal, akhir, awal dan akhir, di tengah, atau dapat
pula menyebar ke seluruh bagian paragraf. Secara umum,
paragraf yang efektif mempunyai ciri-ciri, yaitu (1)
mengandung satu gagasan utama yang dijelaskan dengan
beberapa pikiran penjelas, (2) pikiran penjelas yang betulbetul mendukung gagasan utama, (3) gagasan utama dan
penjelas yang dikemas dalam kalimat yang lugas dan

4
efektif, dan (4) kalimat yang satu berkait serasi dengan
kalimat yang lain dalam sebuah paragraf.
1.3 Struktur ParagrafSeperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya bahwa dalam membuat paragraf kalimat topik harus
dikembangkan dengan kalimat-kalimat penjelas. Kalimatkalimat penjelas tersebut berfungsi mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik. Kalimat-kalimat
semacam itu lazim disebut kalimat pengembang.
Dalam paragraf, tingkat keeratan hubungan antara
kalimat-kalimat pengembang dan kalimat topik berbedabeda. Ada kalimat-kalimat pengembang yang langsung
menjelaskan kalimat topiknya. Namun, ada pula kalimatkalimat pengembang yang tidak secara langsung menjelaskan kalimat topiknya. Kalimat yang langsung menjelaskan
kalimat topiknya disebut
kalimat pengembang langsungatau kalimat pengembang mayor, sedangkan kalimat yang
secara tidak langsung menjelaskan kalimat topik disebut
kalimat pengembang taklangsung atau kalimat pengembang minor. Kalimat pengembang taklangsung menjelaskan kalimat topik melalui aklimat pengembang langsung.
Pengembangan kalimat topik dengan kalimatkalimat penjelas tersebut membentuk suatu bangun atau
struktur paragraf. Secara hierarki, hubungan antara kalimat
topik dan kalimat-kalimat pengembangnya dapat digambarkan dalam diagram berikut.

5
Pada bagian sebelumnya telah dibahas bahwa
sebuah paragraf terdiri atas kalimat topik yang dijelaskan
dengan kalimat-kalimat pengembang, baik pengembang
langsung dan pengembang taklangsung. Banyaknya kalimat pengembang langsung dan pengembang taklangsung
sangat bergantung pada luas dan sempitnya cakupan informasi yang terdapat pada kalimat topiknya. Namun, yang
tidak boleh dilanggar adalah kalimat topik yang langsung
dijelaskan oleh kalimat pengembang taklangsung.
Dalam membuat paragraf perlu diperhatikan hierarki di atas. Kalimat topik hendaknya selalu diikuti
dengan kalimat pengembang langsung. Seandainya perlu
ada kalimat pengembang taklangsung, tempatnya harus
sesudah kalimat pengembang langsung. Struktur paragraf
yang hierarkis tersebut, antara lain, adalah (1) kalimat
topik (KT)–kalimat pengembang langsung (KPL), (2)
kalimat topik (KT)–kalimat pengembang langsung (KPL)–
kalimat pengembang taklangsung (KPT), (3) kalimat
pengembang langsung (KPL)–kalimat topik (KT), (4)
kalimat pengembang taklangsung (KPT)–kalimat pengembang langsung (KPL)–kalimat topik (KT). Struktur
paragraf (1) dan (2) diawali dengan kalimat topik dan
Kalimat Topik
Kalimat Pengembang Langsung
Kalimat Pengembang Taklangsung

6
dijelaskan dengan kalimat pengembang. Sementara itu,
struktur (3) dan (4) diawali dengan kalimat penjelasnya
(kalimat pengembang taklangsung dan kalimat pengembang langsung) kemudian baru disimpulkan dalam kalimat
topik. Struktur-struktur paragraf itu dapat digambarkan
dalam diagram sebagai berikut.
Struktur (1) Struktur (2)
Struktur (3) Struktur (4)
KTKPL
KPL
KTKPL
KPL
KTKPL
KPL
KPT
KPT
KPT
KPT
KPT
KPT
KPT
KPT
KPL
KPL
KT
7
Contoh Paragraf Struktur (1)
(1) Ruang lingkup manajemen operasi mencakup tiga
aspek utama, yaitu perencanaan sistem produksi,
sistem pengendalian produksi, dan sistem informasi produksi. Perencanaan sistem produksi
meliputi perencanaan produk, perencanaan lokasi
pabrik, perencanaan tata letak (
lay out) pabrik,
perencanaan lingkungan kerja, dan perencanaan
standar produksi. Sistem pengendalian produksi
meliputi pengendalian proses produksi, bahan,
tenaga kerja, biaya, kualitas, dan pemeliharaan.
Sementara itu, sistem informasi produksi meliputi
struktur organisasi, produksi atas dasar pesanan,
dan produksi massal (
mass production).
ContohParagraf Struktur (2)
(2) Dalam hal pakaian adat, masyarakat Tengger memiliki tradisi berbusana yang merefleksikan kebersahajaan hidup dan religiusitas yang mendalam.
Pakaian adat dikenakan ketika ada ritual ataupun
hajatan. Para pria mengenakan celana panjang
warna hitam, baju koko lengan panjang—biasanya
warna hitam untuk warga biasa dan warna putih
untuk dukun pandita—serta mengenakan ikat
kepala (
udeng). Para perempuan mengenakan kain
batik dan kebaya polos hitam dengan menyanggul
rambut mereka atau menyisir rambut mereka
dengan rapi. (Sumber:
Pengetahuan Tradisional
dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur
,
2013:411)

8
Strukutr paragraf pada contoh (1) adalah kalimat
topik (KT) yang dijelaskan dengan tiga kalimat pengembang langsung (KPL). Kalimat topiknya adalah
ruang
lingkup manajemen operasi mencakup tiga aspek utama,
yaitu perencanaan sistem produksi, sistem pengendalian
produksi, dan sistem informasi produksi.
Kalimat topik
tersebut dijelaskan dengan tiga kalimat pengembang
langsung sesuai dengan jumlah informasi yang dibutuhkan.
KPL 1
Perencanaan sistem produksi
meliputi perencanaan
produk, perencanaan lokasi
pabrik, perencanaan tata
letak pabrik, perencanaan
lingkungan kerja, dan
perencanaan standar
produksi.
KTRuang lingkup
manajemen
operasi
mencakup tiga
aspek utama,
yaitu
perencanaan
sistem produksi,
sistem
pengendalian
produksi, dan
sistem informasi
produksi.
KPL 2
Sistem pengendalian
produksi meliputi
pengendalian proses
produksi, bahan, tenaga
kerja, biaya, kualitas, dan
pemeliharaan.
KPL 3
Sistem informasi produksi
meliputi struktur organisasi,
produksi atas dasar pesanan,
dan produksi massal.

9
Struktur paragraf pada contoh (2) adalah kalimat topik
(KT)-kalimat pengembang langsung (KPL)-kalimat pengembang taklangsung (PPT). Jika dimasukkan ke dalam
diagram, struktur paragraf itu adalah sebagai berikut.
KT
Dalam hal pakaian adat,
masyarakat Tengger memiliki
tradisi berbusana yang
merefleksikan kebersahajaan hidup
dan religiusitas yang mendalam.
KPLPakaian adat dikenakan ketika ada
ritual ataupun hajatan.
KPT 1
Para pria mengenakan celana panjang warna hitam, baju koko lengan panjang—biasanya warna
hitam untuk warga biasa dan warna putih untuk dukun pandita—
serta mengenakan ikat kepala
(
udeng).KPT 2Para perempuan mengenakan kain batik dan kebaya polos hitam
dengan menyanggul rambut mereka atau menyisir rambut mereka
dengan rapi.

10
Struktur paragraf yang diawali dengan kalimat
pengembang dikategorikan sebagai paragraf induktif.
Paragraf seperti itu selalu dimulai dari perincian atau
pernyataan khusus kemudian ditutup dengan konklusi
dalam bentuk kalimat topik.
Contoh paragraf struktur (3) dan (4):
(3) Dari segi dampaknya, jelas bahwa pemakaian
dinamit untuk menangkap ikan mengakibatkan
kerusakan yang sangat fatal. Dinamit dapat
menghancurkan batu karang. Selain itu, ledakan
dinamit juga mengakibatkan biota laut mati.
Bahkan, ledakan dinamit yang besar dapat merusak
kapal-kapal yang kebetulan lewat. Dari segi
keamanan, ledakan dinamit nelayan sudah terbukti
telah makan banyak korban. Hingga pertengahan
tahun ini, tercatat sudah 15 nelayan tewas dan 25
orang lainnya terluka. Ledakan terparah yang
pernah terjadi telah menghancurkan perahu nelayan dan mengakibatkan seluruh awak dan nelayan
mati tenggelam. Itulah sebabnya, pemakaian dinamit untuk menangkap ikan harus dilarang karena
lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.
(Sumber:
Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia:
Paragraf
, 2001)
Contoh paragraf (3) tersebut diawali dengan kalimat-kalimat pengembang, kemudian diakhiri dengan simpulan dalam bentuk kalimat topik. Terdapat dua kalimat
pengembang langsung yang menjelaskan kalimat topiknya. Dua kalimat pengembang langsung tersebut masingmasing juga dijelaskan dengan kalimat pengembang

11
taklangsung. Lebih jelasnya seperti tampak pada diagram
berikut.
KPL
Dari segi dampaknya, jelas bahwa pemakaian dinamit untuk menangkap ikan
mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal.
KPLDari segi keamanan, ledakan dinamit nelayan
sudah terbukti telah makan banyak korban.
KPT
Dinamit dapat menghancurkan
batu karang.
KPT
Selain itu, ledakan dinamit juga
mengakibatkan biota laut mati.
KPT
Bahkan, ledakan dinamit yang
besar dapat merusak kapal-kapal
yang kebetulan lewat.
KPT
Hingga pertengahan tahun ini,
tercatat sudah 15 nelayan tewas
dan 25 orang lainnya terluka .
KPT
Ledakan terparah yang pernah
terjadi telah menghancurkan perahu nelayan dan mengakibatkan
seluruh awak dan nelayan mati
tenggelam.
KTItulah
sebabnya,
pemakaian
dinamit untuk
menangkap
ikan harus
dilarang
karena lebih
banyak
mudaratnya
daripada
manfaatnya.

121.4 Paragraf yang BaikPengembangan paragraf seperti yang telah diuraikan
pada bagian sebelumnya tentu saja disesuaikan dengan
maksud atau tujuan penulisan itu. Di samping itu, sebuah
tulisan dapat pula disusun menurut urutan dari yang umum
ke yang khusus atau dari yang khusus ke yang umum.
Dalam keseluruhan tulisan itu, ada bagian pembuka
(ancang-ancang), bagian isi (penjabaran), dan bagian
penutup. Pada keseluruhan bagian karangan ada bagian
yang tidak kalah penting, yaitu bagian yang memberikan
rambu-rambu. Rambu-rambu yang dimaksud adalah
penanda hubungan antarbagian yang sangat mutlak
diperlukan untuk membangun paragraf yang baik.
Secara umum rambu-rambu paragraf yang baik
meliputi kesatuan, kepaduan, kelengkapan/ketuntasan, keruntutan, dan konsistensi. Perincian mengenai ramburambu atau syarat aragraph yang baik adalah sebagai
berikut.
1.4.1 Kesatuan ParagrafSalah satu hal yang mendasar untuk diperhatikan
penulis adalah kesatuan paragraf. Kesatuan berkaitan dengan adanya sebuah gagasan utama dan beberapa gagasan
tambahan atau penjelas yang mendukung gagasan utama
itu. Dalam gagasan tambahan tersebut tidak boleh terdapat
aragr-unsur atau informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan gagasan pokok. Penyimpangan informasi
dari gagasan utama akan menyulitkan pembaca. Jadi,
semua gagasan tambahan dalam paragraf harus membicarakan gagasan utama.
Kesatuan paragraf dapat terpenuhi jika semua
informasi dalam paragraf itu masih dikendalikan oleh
gagasan utama. Dengan kata lain, informasi-informasi

13
dalam paragraf itu hanya terfokus pada topik yang dibicarakan. Oleh karena itu, penulis harus selalu mengevaluasi kalimat-kalimat yang dibuatnya. Jika ada kalimat
yang sama sekali tidak berkaitan dengan gagasan utama,
kalimat tersebut harus dikeluarkan dari paragraf. Jika
ternyata dalam sebuah paragraf terdapat dua gagasan
utama, kedua gagasan utama itu harus dipisah dan
dijadikan paragraf tersendiri.
Contoh:
(4) Angklung merupakan alat musik tradisional
masyarakat Sunda, yang sejak November 2010
diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO.
Alat musik tersebut berbahan pipa bambu. Pada
awalnya angklung dimainkan dengan tangga nada
pentatonik yang terdiri atas lima nada, seperti
halnya gamelan dan alat tradisional lain. Tahun
1938 angklung mulai dimainkan dengan tangga
nada diatonik layaknya alat musik barat, seperti
piano. (Diadaptasi dari ―Promosi Angklung Perlu
Dibenahi‖ dalam
Kompas,9 Desember 2013)
Contoh paragraf (4) tersebut mengandung satu kalimat topik, yaitu
angklung merupakan alat musik
tradisional masyarakat Sunda
. Kalimat topik itu dikembangkan dengan empat kalimat penjelas, yaitu (1)November 2010 (angklung) diakui sebagai warisanSebuah paragraf dikatakan memiliki kesatuan jika
paragraf itu hanya mengandung satu gagasan utama
dan kalimat-kalimat dalam paragraf mengarah pada
satu pokok atau tidak menyimpang dari pokok
pembicaraan.

14budaya oleh UNESCO; (2) Angklung berbahan pipa
bambu
; (3) Pada awalnya angklung dimainkan dengan
tangga nada pentatonik
; (4) Tahun 1938 angklung mulai
dimainkan dengan tangga nada diatonik
. Keempat kalimat
pengembang itu membicarakan persoalan yang sama,
yaitu angklung. Oleh karena itu, aspek kesatuan sebagai
salah satu ketentuan paragraf yang baik terpenuhi.
Sebuah paragraf kadang-kadang mengandung dua
gagasan utama. Paragraf seperti itu termasuk paragraf
yang tidak baik karena aspek kesatuannya tidak terpenuhi.
Kalau ada paragraf semacam itu, gagasan utama sebaiknya
dipisah ke dalam paragraf yang berbeda. Dengan begitu,
kesatuan paragraf terpenuhi. Selain itu, pengembangannya
pun dapat lebih baik. Perhatikan contoh paragraf berikut.
(5) Pada saat ini manfaat internet sebagai sarana
komunikasi di tengah-tengah masyarakat sangat
besar. Internet dipandang sebagai sarana yang tidak
dapat diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui peran, manfaat, dan dampak negatif internet
bagi masyarakat. Selain itu, tujuan penulisan karya
ilmiah ini adalah untuk mengetahui dan mendalami
fasilitas dan perkembangan internet.
Dalam paragraf tersebut terdapat dua pesan atau
gagasan utama yang ingin disampaikan penulis. Agar
paragraf menjadi baik, dua gagasan utama itu harus
dipisahkan ke dalam dua paragraf yang berbeda seperti
berikut ini.

15
(5a) Internet sebagai sarana komunikasi di tengah-tengah masyarakat pada saat ini sangat besar andilnya. Internet dipandang sebagai sarana yang tidak
dapat diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
(5b)Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui peran, manfaat, dan dampak negatif internet
bagi masyarakat. Selain itu, tujuan penulisan karya
ilmiah ini adalah untuk mengetahui dan mendalami
fasilitas dan perkembangan internet.
Gagasan utama dalam paragraf (5a) adalah
andil
internet sebagai sarana komunikasi di tengah-tengah
masyarakat sangat besar
yang terdapat dalam kalimat
pertama. Gagasan utama (5a) itu dikembangkan dengan
gagasan tambahan yang berupa kalimat penjelas
internet
dipandang sebagai sarana yang tidak dapat diabaikan
dalam kehidupan sehari-hari
. Sementara itu, yang menjadi
gagasan utama dalam paragraf (5b) adalah
tujuan
penulisan karya ilmiah
. Kedua gagasan utama itu berisi
dua hal yang berbeda sehingga tidak mungkin disatukan
dalam satu paragraf. Oleh karena itu, jika ada paragraf
dengan kasus semacam itu, paragraf itu harus dipecah ke
dalam dua paragraf, kemudian setiap paragraf dapat
dikembangkan lagi dengan menambah kalimat penjelas.
1.4.2 Kepaduan ParagrafParagraf bukanlah merupakan kumpulan kalimat
yang masing-masing berdiri sendiri. Paragraf dibangun
oleh kalimat yang mempunyai hubungan atau keterkaitan.
Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti
jalan pikiran penulis tanpa hambatan akibat adanya
loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran

16
yang teratur dapat terbentuk dari keterkaitan dan keserasian antarkalimat dalam paragraf.
Kepaduan suatu paragraf berkaitan dengan keserasian antarkalimat yang membangun paragraf tersebut.
Keserasian hubungan antarkalimat dalam paragraf dapat
dibangun dengan menggunakan alat kohesi, baik gramatikal maupun leksikal. Alat kohesi gramatikal yang
dapat digunakan untuk membangun paragraf yang padu,
antara lain, adalah (1) kata transisi (konjungsi/ungkapan
penghubung antarkalimat), (2) referensi (pengacuan), (3)
paralelisme (kesejajaran struktur), dan (4) ellipsis (pelesapan). Sementara itu, alat kohesi leksikal, antara lain,
berupa (1) sinonim, (2) antonim, (3) hiponim, dan (4)
repetisi (pengulangan).
1.4.2.1 Kata Transisi (Ungkapan Penghubung Antarkalimat)
Kata transisi merupakan penghubung (konjungtor)
atau perangkai yang digunakan untuk menghubungkan
unsur-unsur dalam sebuah kalimat atau antarkalimat dalam
sebuah paragraf. Ketepatan penggunaan kata transisi
berpengaruh terhadap ketegasan informasi. Gagasan-gagasan dalam kalimat yang sama dapat memunculkan
informasi yang berbeda karena perbedaan penggunaan
kata transisi.
Kalimat
Jaka memelihara ayam karena rumahnya
kotor
berbeda maknanya dengan kalimat Jaka memeliharaSebuah paragraf dikatakan memiliki kepaduan jika
terdapat keserasian hubungan antarkalimat dalam
paragraf.

17ayam sehingga rumahnya kotor. Perbedaan makna tersebut disebabkan oleh pemakaian konjungsi yang berbeda,
yaitu
karena dan sehingga. Konjungsi karena mengandung makna ‗penyebaban‘, yaitu bahwa pernyataan dalam
klausa subordinatif (yang diawali dengan konjungsi)
merupakan sebab dari terjadinya keadaan/peristiwa dalam
klausa lainnya. Dalam konteks tersebut,
rumahnya kotormenjadi sebab Jaka memelihara ayam. Sementara itu,
konjungsi
sehingga mengandung makna ‗pengakibatan‘,
yaitu bahwa pernyataan dalam klausa subordinatif merupakan akibat dari keadaan dalam klausa lainnya. Dalam
konteks kalimat itu
rumahnya kotor merupakan akibat dariJaka memelihara ayam.
Kata transisi atau ungkapan penghubung antarkalimat berupa kata atau frasa yang berfungsi merangkaikan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain sesuai
dengan jenis hubungan yang ditunjukkan. Kata transisi
yang biasa digunakan dalam paragraf, antara lain, adalah
sebagai berikut.
a) Hubungan yang menyatakan
tambahan kepada sesuatu
yang telah disebut sebelumnya
Paragraf yang hubungan antarkalimatnya menunjukkan makna
tambahan ini biasanya menggunakan
ungkapan penghubung antarkalimat, seperti
lebih lagi,tambahan (pula), selanjutnya, di samping itu, selain itu,lalu, seperti halnya, juga, lagi (pula), berikutnya, kedua,ketiga, akhirnya, tambahan lagi, dan demikian juga.
Dalam hubungan ini, suatu pernyataan yang dinyatakan
setelah ungkapan penghubung antarkalimat itu merupakan
keadaan atau peristiwa lain yang serupa dengan keadaan
atau peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya.

18
Contoh:
(6) Pesan yang diusung dalam upacara tradisional
Longkangan ini adalah pentingnya berterima kasih
kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan
bumi serta memberikan kenikmatan dan kesejahteraan.
Di samping itu, upacara tradisional ini
dimaksudkan untuk mengenang jasa leluhur yang
telah merintis permukiman bagi para pelaku
upacara. Mereka takut atau merasa terancam oleh
bencana yang bersumber dari kemarahan Yang
Mahakuasa atau roh leluhur jika tidak melakukan
upacara. ((Sumber:
Pengetahuan Tradisional dan
Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur
, 2013:57)
Jika kita perhatikan, pada paragraf (6) tersebut
terdapat informasi tambahan bagi kalimat topiknya.
Informasi tambahan yang dimaksud terdapat pada kalimat
yang diawali dengan ungkapan transisi
di samping itu.
Jadi, kalimat
upacara tradisional ini dimaksudkan untuk
mengenang jasa leluhur yang telah merintis permukiman
bagi para pelaku upacara
merupakan informasi tambahan
dari gagasa utama, yaitu
pentingnya upacara sebagai
bentuk ungkapan terima kasih atau rasa syukur kepada
Tuhan
.
b) Hubungan yang menyatakan
pertentanganDalam paragraf ini suatu pernyataan, keadaan, atau
peristiwa yang dinyatakan setelah ungkapan penghubung
antarkalimat menunjukkan keadaan yang berlawanan
dengan sesuatu yang telah disebutkan terlebih dahulu.
Untuk menghubungkan dua pernyataan yang berlawanan
seperti itu biasanya digunakan kata transisi, seperti
akan
19tetapi, namun, bagaimanapun juga, walaupun demikian,sebaliknya, biarpun, dan meskipun demikian.
Contoh:
(7) Arsitektur suatu daerah akan mengalami perubahan
jika terjadi perubahan pada unsur kebudayaan yang
lain. Bahkan, sebagai bentuk kebudayaan yang
paling konkret, arsitektur merupakan bentuk kebudayaan yang paling rentan berubah.
Namun,
perubahan suatu kebudayaan tidak terjadi secara
spontan dan menyeluruh. Perubahan arsitektur
akan berlangsung secara bertahap dan parsial.
Dalam perubahan itu, ada bagian yang tetap, tetapi
ada pula bagian yang mengalami perubahan dan
mengikuti perkembangan sesuai dengan kondisi,
baik alam maupun lingkungan. (Dimodifikasi dari
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya
Lokal Jawa Timur
, 2013:318)
Paragraf tersebut mengandung informasi yang bersifat mempertentangkan. Informasi yang dimaksud diawali
dengan ungkapan transisi
namun. Dengan demikian,
kalimat
perubahan suatu kebudayaan tidak terjadi secara
spontan dan menyeluruh
bersifat mempertentangkan
informasi dalam gagasan utama yang terdapat pada
kalimat topiknya, yaitu
arsitektur suatu daerah akan
mengalami perubahan
.
c) Hubungan yang menyatakan
perbandinganDalam hubungan perbandingan ini suatu keadaan
atau peristiwa yang disebutkan setelah ungkapan penghubung antarkalimat merupakan pembanding dari pernyataan, keadaan, atau peristiwa yang telah disebutkan
sebelumnya. Ungkapan penghubung yang lazim digu-

20
nakan dalam hubungan seperti itu, antara lain, adalah
sama halnya, seperti, dalam hal yang sama, dalam hal
yang demikian
, sebagaimana halnya, dan begitu juga
dengan.
Contoh:
(8) Meski berdiri di dua bagian dunia yang berbeda,
dua orang itu tetap berada di atas tanah. Keduanya
tidak melayang di angkasa. Gaya gravitasi yang
menyebabkan keduanya tetap berpijak di tanah.
Begitu juga dengan laut yang mengelilingi bumi,
airnya tidak tumpah. Gaya tarik bumi yang tidak
terlihat menyebabkan laut tetap berada di bagiannya. (Dimodifikasi dari Republika, 23 Januari
2003)
Paragraf (8) tersebut mengandung dua informasi
yang menunjukkan makna perbandingan. Dua informasi
yang dimaksud itu diantarai dengan ungkapan transisi
begitu juga dengan. Pernyataan dalam kalimat (1), meski
berdiri di dua bagian dunia yang berbeda, dua orang itu
tetap berada di atas tanah
, dan kalimat (2) keduanya tidak
melayang di angkasa
, diperbandingkan dengan pernyataan
dalam kalimat (4),
laut yang mengelilingi bumi, airnya
tidak tumpah
. Dua informasi yang diperbandingkan itu
adalah
dua orang yang tidak melayang dan air tidak
tumpah meskipun berada di atas bumi
karena ada
gravitasi.
d) Hubungan yang menyatakan
akibat atau hasilDalam hubungan yang menyatakan akibat ini suatu
keadaan atau peristiwa yang disebutkan setelah ungkapan
penghubung antarkalimat merupakan akibat atau hasil dari
pernyataan, keadaan, atau peristiwa yang telah disebutkan

21
sebelumnya. Dalam suatu paragraf ungkapan penghubung
yang lazim digunakan dalam hubungan, seperti itu, antara
lain adalah
oleh sebab itu, oleh karena itu, jadi, maka, danakibatnya.
Contoh:
(9) Pesan yang diusung dalam upacara ini adalah
bahwa dalam perjalanan hidupnya manusia selalu
mendapat ancaman dari kekuatan jahat yang bisa
merusak atau menghancurkan hidupnya. Kekuatan
jahat ini harus disingkirkan atau diusir agar tidak
membawa bencana.
Oleh karena itu, manusia harus
berusaha menyingkirkannya dengan cara memohon
kepada Tuhan agar terhindar dari ancaman
tersebut. (Dimodifikasi dari
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur,
2013:117)
Dalam paragraf (9) tersebut terdapat hubungan
antarinformasi yang menunjukkan makna hasil atau
akibat. Pernyataan yang diungkapkan dalam kalimat yang
diawali dengan ungkapan transisi
oleh karena itumerupakan akibat dari pernyataan yang dituangkan dalam
kalimat-kalimat sebelumnya. Penyataan bahwa
manusia
harus berusaha menyingkirkannya dengan cara memohon
kepada Tuhan
merupakan hasil atau akibat adanyaancaman dari kekuatan jahat yang bisa merusak atau
menghancurkan hidup manusia
.
e) Hubungan yang menyatakan
tujuanDalam paragraf hubungan yang menyatakan tujuan
ini, suatu keadaan atau peristiwa yang disebutkan setelah
ungkapan penghubung antarkalimat merupakan tujuan dari
pernyataan, keadaan, atau peristiwa yang telah disebutkan

22
sebelumnya. Ungkapan penghubung yang lazim digunakan dalam hubungan seperti itu antara lain adalah
untuk
maksud itu, untuk maksud tersebut,
dan supaya.
Contoh:
(10) Pengambilan santan dari kelapa yang sudah
diparut dapat dilakukan dengan meremas-remas
dengan tangan. Namun, hasilnya tidak bersih dari
parutan kelapa sehingga perlu penyaring.
Untuk
maksud itu
, dipakai alat penyaring mulai dari
yang sangat tradisional sampai pada saringan
hasil pabrik, seperti yang banyak digunakan oleh
ibu-ibu rumah tangga sekarang ini. Di Sumatera
Barat, wadah dari anyaman daun pandan yang
berbentuk persegi empat dapat dijadikan sebagai
alat memeras santan kelapa. Dengan cara ini
santan yang didapat bersih dari parutan.
(Dimodifikasi dari
Pengetahuan Tradisional dan
Ekspresi Budaya Lokal Sumatera Barat
,
2014:142)
Pernyataan kalimat (3) yang diawali dengan ungkapan
untuk maksud itu merupakan tujuan dari pernyataan
dalam gagasan utama yang tertuang dalam kalimat
sebelumnya, yaitu
diperlukan penyaring dalam pengambilan santan kelapa yang diparut yang dilakukan dengan
meremas-remasnya dan hasilnya tidak bersih.
f) Hubungan yang menyatakan singkatan, contoh,
identifikasi
Dalam hubungan yang menyatakan singkatan ini,
suatu keadaan atau peristiwa yang disebutkan setelah
ungkapan penghubung antarkalimat merupakan contoh
atau identifikasi dari pernyataan, keadaan, atau peristiwa

23
yang telah disebutkan sebelumnya. Ungkapan penghubung
yang lazim digunakan dalam hubungan seperti itu antara
lain adalah
singkatnya, ringkasnya, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni, yaitu, dansesungguhnya.
Contoh:
(11) Carok bisa terjadi ketika ada konflik tanah dan
persoalan lain yang dianggap menyinggung harga
diri.
Dengan kata lain, carok sebenarnya tidak
akan dan tidak perlu terjadi jika tidak ada lelaki
yang menggoda istri orang lain atau konflikkonflik yang dianggap menghina salah satu
pihak. (Dimodifikasi dari
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur,
2013:516)
Dalam paragraf (11) tersebut, pernyataan kalimat (1)
diindentifikasi secara lebih detail dan terperinci pada
kalimat (2). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
kalimat (2) merupakan bentuk identifikasi dari kalimat (1).
Pernyataan yang diidentifikasi tersebut adalah
persoalan
lain yang dianggap menyinggung harga diri
. Yang
dianggap menyinggung harga diri di dalam paragraf itu
adalah
adanya lelaki yang menggoda istri orang lain atau
konflik-konflik yang dianggap menghina salah satu pihak
.
Penyataan yang mengidentifikasi dan yang diidentifikasi
dihubungkan dengan ungkapan transisi
dengan kata lain.
g) Hubungan yang menyatakan
waktuDalam hubungan yang menyatakan waktu ini, suatu
keadaan atau peristiwa yang disebutkan setelah ungkapan
penghubung antarkalimat merupakan waktu terjadinya
keadaan atau peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya.

24
Ungkapan penghubung yang lazim digunakan dalam
hubungan seperti itu, antara lain, adalah
sementara itu,segera, beberapa saat kemudian, sesudah, dan kemudian.
Contoh:
(12) Matahari terbentuk sekitar lima miliar tahun lalu.
Sesudah matahari terbentuk, partikel-partikel
lainnya terus berputar mengelilingi matahari
seperti pusaran air. Putaran itu berlangsung dari
ratusan juta hingga miliaran tahun. (
Republika, 09
Januari 2003)
Dalam paragraf (12) tersebut ada dua peristiwa yang
menunjukan urutan waktu berlangsungnya. Antara peristiwa yang terdapat pada kalimat (2) terjadi setelah
peristiwa (1). Kedua peristiwa itu dihubungkan dengan
ungkapan transisi
sesudah.
h) Hubungan yang menyatakan
tempatDalam hubungan yang menyatakan tempat ini, suatu
keadaan atau peristiwa yang disebutkan setelah ungkapan
penghubung antarkalimat merupakan tempat berlangsungnya keadaan atau peristiwa yang telah disebutkan
sebelumnya. Ungkapan penghubung yang lazim digunakan dalam hubungan seperti itu, antara lain, adalah
di sini,di situ, dekat, di seberang, berdekatan dengan, danberdampingan dengan.
Contoh:
(13) Alam semesta yang maha luas ini memang tidak
terjadi dengan sendirinya.
Di sana ada sebuah
titik putih yang kemudian meledak, selanjutnya
muncul partikel debu dan gas yang berkumpul
setelah bertebaran. Dari pertikel-partikel ini

25
tercipta alam semesta dan seisinya. (
Republika, 9
Januari 2003)
Ungkapan transisi yang menyatakan
tempat dimanfaatkan dengan baik pada paragraf (13). Ungkapan di sanamengacu pada suatu tempat awal mula alam semesta
terjadi. Kalimat (1) memang tidak secara eksplisit
menunjukkan tempat, tetapi kita dapat menyarikan makna
implisitnya bahwa yang dimaksudkan itu adalah suatu
tempat atau ruang.1.4.2.2 ReferensiReferensi atau pengacuan merupakan hubungan
antara referen dengan lambang yang dipakai untuk
mewakilinya. Dengan kata lain, referensi merupakan unsur
luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa, misalnya,
benda yang disebut
rumah adalah referen dari kata rumah.Referensi dapat ditinjau dari segi maujud yang
menjadi acuannya. Dalam kaitan ini, referensi dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu eksoforis dan
endoforis. Referensi eksoforis adalah pengacuan terhadap
maujud yang terdapat di luar teks (bahasa), seperti
manusia, hewan, alam sekitar, atau suatu kegiatan.
Sementara itu, referensi endoforis adalah pengacuan
terhadap maujud yang terdapat di dalam teks (bahasa),
teks yang biasanya diwujudkan oleh pronomina, baik
pronomina persona, pronomina demonstrativa, maupun
pronomina komparatif.
Referensi yang dapat dijadikan sebagai alat kohesi
dalam paragraf adalah referensi endoforis. Jika ditinjau
dari arah acuannya, referensi endoforis ini dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu referensi anaforis dan referensi
kataforis.

26
Dalam kaitannya dengan masalah referensi yang
anaforis dan kataforis, persyaratan bagi suatu konstituen
yang dapat disebut anafora atau katafora adalah konstituen
itu harus berkoreferensi (memiliki referen yang sama)
dengan konstituen yang diacunya. Salah satu akibat dari
hal itu adalah memungkinkan adanya konstituen tertentu
yang sudah disebutkan sebelumnya atau sesudahnya, baik
dalam bentuk pronomina persona maupun dalam bentuk
pronomina lainnya. Pengacuan terhadap konstituen yang
sudah disebutkan sebelumnya atau di sebelah kirinya
disebut rerefensi anafora. Jika koreferensi suatu bentuk
mengacu pada konstituen yang berada di belakangnya atau
di sebelah kanannya disebut referensi katafora. Referensi,
baik anafora maupun katafora, meliputi pronomina
persona, pronomina demonstrativa, dan pemarkah definit.
a. Pronomina PersonaSeperti yang telah disebutkan terdahulu bahwa
referensi itu terdiri atas anaforis dan kataforis. Referensi
anaforis mengacu pada maujud yang sudah disebutkan
sebelumnya (kiri), sedangkan referensi kataforis mengacu
pada maujud yang ada di belakangnya (kanan). Referensi
anaforis biasanya berupa pronomina persona dan
pronomina demonstrativa. Referensi anaforis yang berupa
pronomina persona dapat berwujud enklitik -
nya dan kata
ganti orang III.
Pronomina persona merupakan bentuk deiksis yang
mengacu pada orang secara berganti-ganti. Hal ini sangat
bergantung pada peran pelibat wacana, baik sebagai
pembicara (persona I), pendengar (persona II), atau yang
dibicarakan (persona III). Pronomina persona III yang
berupa enklitik
-nya mengacu pada maujud yang telah
27
disebutkan pada bagian sebelumnya. Dengan kata lain,
enklitik
-nya cenderung bersifat anaforis.
Contoh:
(14) Ciri khas masyarakat Tengger secara tradisional
adalah kepatuhan mereka dalam meyakini dan
menjalankan ajaran leluhur, seperti menggelar
ritual yang berkaitan dengan daur kehidupan dan
lingkungan alam. Meskipun sudah mengenal
pertanian komersial sejak zaman kolonial
Belanda,
mereka tidak serta-merta meninggalkan
tradisi leluhurnya hanya karena alasan ekonomi.
Sektor pariwisata juga tidak bisa mengubah
secara mutlak pandangan dan perilaku hidup
mereka. Persentuhan mereka dengan budaya
modern—menonton televisi, menggunakan sepeda motor dan mobil buatan Jepang, mengenakan
pakaian buatan pabrik, hingga mengenyam pendidikan sekolah—juga tidak mengurangi keyakinan dan kesetiaan masyarakat Tengger terhadap
ajaran leluhur
nya. (Dimodifikasi dari Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal
Jawa Timur
, 2013:527)
Dalam paragraf tersebut ada dua kata ganti yang
digunakan, yaitu
mereka dan –nya. Kata ganti merekamerupakan kata ganti masyarakat Tengger yang telah
disebutkan pada bagian sebelumnya. Begitu juga dengan
kata ganti –
nya, kata ganti itu juga menggantikanmasyarakat Tengger. Pemanfaatan kata ganti seperti itu
juga membantu pemaduan antarkalimat dalam paragraf.

28b. Pronomina DemonstrativaPronomina demonstrativa merupakan kata-kata
yang menunjuk pada suatu benda. Kata-kata itu bersifat
deiktis, yakni menunjuk kepada hal umum, tempat,
ataupun ihwal. Pronomina demonstrativa umum terdiri
atas
ini, itu, dan anu. Kata itu mengacu ke acuan yang
agak jauh dari pembicara, ke masa lampau, atau ke
informasi yang sudah disampaikan (
distal). Sementara
kata
ini mengacu ke konstituen yang berjarak agak dekat
atau sedang (
semiproksimal).
Contoh:
(15) Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok
androgen yang dihasilkan oleh testis pada pria
dan indung telur (ovari) pada wanita. Hormon
inimerupakan hormon seks pria utama dan merupakan steroid anabolik. Baik pada pria maupun
wanita, testoren memegang peranan penting bagi
kesehatan. Fungsinya, antara lain, adalah meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan terhadap osteoporosis. Secara rata-rata,
pria dewasa menghasilkan testosteron sekitar dua
puluh kali lebih banyak daripada wanita dewasa.
(16) Perdana Menteri Prancis, Jean-Marc Ayrault,
menulis surat kepada para menteri berupa
instruksi untuk menghentikan penggunaan istilah
berbahasa Inggris dalam komunikasi resmi. Surat
itu keluar setelah para menteri menggunakan
istilah
Silver Economy untuk menamai program
ekonomi Prancis. Menurut Ayrault, bahasa
Prancis mampu mengekspresikan realitas kontemporer dan menggambarkan inovasi yang terus
berkembang pada bidang pengetahuan dan

29
teknologi. (Dimodifikasi dari
www. kompas.com,3 Mei 2013)
Kata ganti penunjuk
ini dan itu merupakan deiksis
yang digunakan untuk mengacu pada sesuatu yang telah
atau yang akan disebutkan. Sesuatu yang telah disebutkan
pada bagian sebelumnya dapat diacu dengan kedua kata
ganti tersebut. Namun, untuk sesuatu yang akan
disebutkan kemudian hanya dapat menggunakan kata ganti
ini. Pada paragraf (15) tersebut kata ini mengacu padatestosteron yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya, yaitu pada kalimat pertama. Pada paragraf (16) kata
ganti
itu juga mengacu pada pernyataan sebelumnya. Kata
ganti
itu dalam paragraf tersebut mengacu pada surat yang
ditulis Perdana Menteri Prancis Jean-Marc Ayrault untuk
para menteri
.c. Pemarkah Ketakrifan atau KedefinitanUntuk mengungkapkan sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dapat dilakukan dengan strategi
penyulihan yang koreferensial dengan menggunakan pemarkah ketakrifan atau kedefinitan. Pemarkah-pemarkah
yang sering digunakan sebagai penyulih adalah
tersebut,
begini,
dan begitu.Contoh:
(17) Pantai Nongsa dengan panjang 1,3 km diapit oleh
beberapa resor wisata bertaraf international. Di
sebelah timur terdapat resor Nongsa Point Marina
dan Turi Beach, sedangkan di sebelah barat
berbatasan dengan Palm Spring, sebuah lapangan
golf dan resor. Target pasar resor-resor wisata
tersebut tidak lain adalah para pelancong dari
30
negeri seberang. (Dimodifikasi dari
www.tiket.com/attractions/indonesia/kepulauan
riau/ hotel-dekat-pantai-kampung-nongsa)
(18) Keadaan itu merupakan salah satu tanda kalau
alam semesta ini sangat luas. Tidak seorang pun
mengetahui kepastian luasnya alam semesta ini.
Yang terjadi, alam semesta masih terus berkembang dan bertambah besar dari waktu ke
waktu. Seperti kamu meniup balon yang terus
membesar,
begitulah alam semesta ini bertambah
luas. (
Republika, 9 Januari 2003)
Kata ganti
tersebut pada kalimat ketiga paragraf (17)
mengacu pada pernyataan sebelumnya, yaitu
Resor
Nongsa Point Marina
dan Turi Beach serta Palm Spring.
Dengan menggunakan kata ganti definit
tersebut sebagai
acuan, paragraf menjadi lebih kohesif. Begitu pula dengan
penggunaan kata ganti
begitulah yang terdapat dalam
contoh (18), paragraf di atas juga lebih kohesif. Kata
begitulah pada contoh (18) mengacu pada pernyataanseperti kamu meniup balon yang terus membesar yang
sudah diungkapkan pada bagian sebelumnya.
Selain dengan kata
tersebut, begini, dan begitu,
pemarkah ketakrifan atau kedefinitan juga dapat menggunakan frasa
di sana, di sini, di situ, dari sana, dari sini,
dari situ
. Contoh pengacuan semacam itu adalah sebagai
berikut.
(19) Sambil berdiri menatap langit, Newton merekareka soal hubungan gravitasi tadi dengan apel
yang jatuh, bulan, dan bumi.
Dari situ Newton
menemukan rumusan kalau antara bumi dan

31
bulan memiliki gaya tarik yang tak terlihat. Gaya
tarik itu yang menyebabkan bulan tidak jatuh atau
menabrak bumi. (
Republika, 23 November 2002)
Pada paragraf (19), frasa
dari situ mengacu pada
pernyataan sebelumnya, yaitu
sambil berdiri menatap
langit, Newton mereka-reka soal hubungan gravitasi tadi
dengan apel yang jatuh, bulan, dan bumi
. Pemanfaatan
kata ganti definit
dari situ membantu terciptanya kohesif
dan koherennya wacana. Dengan cara itu kita tidak terlalu
banyak mengulang sesuatu yang sudah kita sebutkan
sebelumnya.
1.4.2.3 SubstitusiSubstitusi atau penyulihan adalah penggantian
konstituen dengan menggunakan kata yang maknanya
sama sekali berbeda dengan kata yang diacunya.
Penyulihan itu merupakan salah satu cara untuk membangun kepaduan paragraf dengan cara mengganti suatu
unsur dengan unsur lain yang acuannya tetap sama, dalam
hubungan antarbentuk kata atau bentuk lain yang lebih
besar daripada kata, seperti frasa atau klausa. Misalnya,
kata
Jepang dapat disulih dengan frasa Negeri Sakura atau
ada yang menyebut dengan frasa
Negeri Matahari Terbit.
Dalam paragraf, penyulihan seperti itu digunakan
untuk menghindari pengulangan kata atau ungkapan.
Penyulihan dapat dimunculkan karena adanya pertalian
gramatikal yang kuat sehingga tercipta pertalian semantik.
Dalam paragraf bahasa Indonesia hal itu perlu direalisasikan untuk menciptakan pemahaman yang utuh bagi
pembaca atau pendengar. Dengan penyulihan paragraf
tidak terkesan monoton karena terhindar dari pengulangan
bentuk yang sama. Selain itu, penyulihan juga dapat

32
dimanfaatkan untuk memperjelas atau mempertegas suatu
kata atau frasa. Perhatikan paragraf berikut.
(20) Seorang ibu rumah tangga terserang
virus HIV.Virus penyebab AIDS itu diduga ditularkan oleh
suaminya yang sering berkencan dengan pekerja
seks komersial. Menurut dokter, akibat
virus yang
hingga kini belum ada vaksinnya itu,
kemungkinan dia hanya dapat bertahan hidup dalam
waktu enam bulan.
Dalam contoh itu terlihat jelas bahwa
virus HIVdapat disulih dengan bentuk-bentuk yang berbeda, yaituvirus penyebab AIDS dan virus yang hingga kini belum
ada vaksinnya
. Pembaca dapat memahami secara utuh
konteks itu karena kesemua bentuk direalisasikan dalam
sebuah paragraf. Dengan demikian, secara gramatikal dan
semantis pertalian antarkalimat terjalin dengan erat.
Seandainya yang dimunculkan dalam paragraf itu hanya
virus yang hingga kini belum ada vaksinnya, pembaca
atau pendengar pasti kesulitan memahami makna
pernyataan itu. Hal itu dapat terjadi karena virus yang
belum ada vaksinnya tidak hanya HIV.
Contoh lain penyulihan adalah sebagai berikut.
(1)
K.H. Abdul Rahman Wahid disulih dengan Gus Duratau Presiden ke-4 RI.
(2)
Belanda disulih dengan Negeri Kincir Angin.
(3)
Bandung disulih dengan Kota Kembang.
(4)
Susilo Bambang Yudoyono disulih dengan Presiden
ke-6 RI
.
(5)
Kesebelasan nasional Italia disulih dengan Gli Azzuriatau juara Piala Dunia empat kali.
331.4.2.4 ElipsisElipsis atau pelesapan merupakan pelesapan unsur
bahasa yang maknanya telah diketahui sebelumnya
berdasarkan konteksnya. Pada dasarnya elipsis dapat
dianggap sebagai substitusi dengan bentuk kosong atau
zero. Unsur-unsur yang dilesapkan itu dapat berupa
nomina, verba, atau klausa. Elipsis nominal merupakan
pelesapan nomina, baik berupa leksikal maupun frasal.
Dalam suatu wacana tulis, yang biasanya dilesapkan adalah unsur yang sama sehingga dalam klausa
atau kalimat selanjutnya tidak dimunculkan lagi. Dalam
kalimat majemuk, misalnya, jika terdapat unsur yang sama
dan menduduki fungsi yang sama pula dalam kalimat itu,
salah unsur itu biasanya dilesapkan.
Contoh:
(21)
Einstein lahir di Ulm, Jerman, pada tanggal 14
Maret 1879, tergolong anak yang pendiam, tidak
pernah senyum, dan lamban. Dia jarang berbicara
dengan orang lain. Namun, kalau sudah bertanya
sesuatu yang menarik perhatiannya, dia berubah
menjadi orang yang cerewet. (
Republika, 23
Januari 2003)
Pada paragraf (21) kalimat pertama, unsur yang
dilesapkan adalah kata
Einstein yang berfungsi sebagai
subjek. Jika dituliskan secara lengkap, bentuknya adalah
Einstein lahir di Ulm, Jerman, pada tanggal 14 Maret
1879, Einstein tergolong anak yang pendiam, Einstein
tidak pernah senyum, dan Einstein lamban
. Pada kalimat
kedua tidak terjadi pelesapan. Yang dilakukan penulis
hanya mengganti kata
Einstein dengan kata ganti dia. Pada
kalimat ketiga, kata
Einstein kembali dilesapkan pada
anak kalimat, sementara pada induk kalimatnya digunakan

34
kata ganti
dia. Pada kalimat ketiga itu, jika penulis
mengabaikan pelesapan, bentuk lengkap kalimat itu adalah
namun, kalau Einstein sudah bertanya sesuatu yang
menarik perhatiannya, maka Einstein berubah menjadi
orang yang cerewet
.1.4.2.5 SinonimKesinoniman berarti bahwa dua butir leksikal
memiliki makna yang hampir sama atau mirip. Sinonim
dapat juga dikatakan sebagai ungkapan, baik berupa kata,
frasa, maupun kalimat, yang maknanya kurang lebih sama
dengan makna ungkapan lain, misalnya
bunga, kembang,dan puspa; mati, meninggal, wafat, tewas, dan gugur; jelekdan buruk. Jika suatu kata yang bersinonim tidak
mempunyai makna yang persis sama, kesamaannya
terletak pada kandungan informasinya.
Kesinoniman ini dapat menjadi sarana membangun
paragraf yang baik. Dengan memanfaatkan bentuk-bentuk
bersinonim, paragraf yang dibuat menjadi lebih variatif
dan tidak terkesan monoton.
Contoh:
(22) Siapakah Wilbur dan Oville Wright? Bila
membaca halaman Iptek kemarin, kamu tentu
telah mengetahuinya. Ya, benar mereka dua
bersaudara yang merancang pembuatan pesawat
terbang.
Kakak beradik ini lahir di Dayton, Ohio,
Amerika Serikat. Orang tuanya bernama Pak
Wilton Wright. (
Republika, 8 Mei 2003)
Pada contoh paragraf (22), kata
dua bersaudara dankakak beradik merupakan dua buah frasa yang bersinonim
secara mirip, artinya keduanya mempunyai makna yang

35
tidak sama betul. Kemiripan makna keduanya adalah
adanya unsur pertalian darah.
1.4.2.7 AntonimAntonim adalah oposisi makna dalam pasangan
leksikal yang dapat dijenjangkan. Secara umum antonim
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Antonim penuh dengan kejenjangan (kebanyakan
adjektiva dan beberapa verba).
b. Anggota tingkat pasangan menunjukkan beberapa ciri
peubah seperti kepanjangan, kecepatan, ketelitian, dan
sebagainya.
c. Untuk menyatakan agak/lebih dan sangat, anggota
pasangan yang bergerak dalam pertentangan arah,
panjang skala memperlihatkan tingkat ciri peubah yang
relevan.
Contoh mengenai bobot
<--2----------1-----------0-----------1----------2--->sangat agak bobot agak sangat
berat berat ringan ringan
Jika diperinci lebih cermat, keantoniman dapat
dibagi lagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
1. Oposisi Mutlak
Oposisi mutlak merupakan pertentangan makna secara
mutlak, seperti
hidup dan mati.2. Oposisi Kutub
Oposisi kutub merupakan pertentangan tidak mutlak,
tetapi bergradasi atau terdapat tingkat-tingkat makna
pada kata-kata tersebut, seperti
kaya-miskin, besarkecil, jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah,
terang-gelap, luas-sempit
.
36
3. Oposisi Relasional
Dalam oposisi relasional (hubungan) ini makna katakata yang beroposisi bersifat saling melengkapi.
Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang
lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya oposisi ini tidak ada, seperti
menjual-membeli,
suami-istri, mundur-maju, pulang-pergi, pasang-surut,
memberi-menerima, belajar-mengajar, ayah-ibu, gurumurid, atas-bawah, utara-selatan, buruh-majikan.
4. Oposisi Hierarki
Makna kata yang beroposisi hierarki ini menyatakan
suatu deret jenjang atau tingkatan. Oleh karena itu,
kata-kata yang beroposisi ini adalah kata-kata yang
berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi),
seperti
meter-kolometer, kuintal-ton, nama satuan
hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan,
seperti
prajurut-opsir.5. Oposisi Majemuk
Oposisi majemuk merupakan suatu kata yang beroposisi dengan lebih dari satu kata, seperti
berdiri dengan
kata
duduk, berbaring, tiarap, berjongkok.Oposisi MutlakDalam oposisi ini, makna antara kata yang satu
dengan kata lainnya yang saling dipertentangkan bersifat
mutlak. Jika kata yang satu diingkarkan, kata lainnya
dibenarkan. Dengan kata lain, jika kata yang satu positif,
kata yang lain negatif, dan sebaliknya. Contoh bentuk
oposisi mutlak itu dalam paragraf adalah sebagai berikut.

37
(23) Semua makhluk yang
hidup di dunia ini
membutuhkan pangan, tidak terkecuali binatang
yang berada di tengah hutan. Ketakcukupan
pangan dapat mengakibatkan
kematian, seperti
yang terjadi di Afrika sebagai akibat dari kemarau
yang berkepanjangan.
24) Anto dan Kamto merupakan sahabat karib
semenjak mereka masih duduk di bangku SMP.
Ke mana pun pergi, mereka selalu berdua.
Namun, semenjak lulus perguruaun tinggi, mereka hampir tidak pernah bertemu. Pertemuan
mereka terjadi ketika ada acara reuni di SMA.
Keduanya saling menceritakan karier dan
keluarganya. Anto bercerita bahwa dia telah
kawin dan dikaruniai dua anak. Anak pertamanya
laki-laki dan sudah bersekolah di SD. Kamto ikut
senang mendengar cerita sahabatnya itu
meskipun dia sendiri sampai kini masih hidup
seorang diri. Dia masih
lajang.
Pasangan kata
hidup dan mati merupakan dua kata
yang berantonim secara mutlak. Kedua kata tersebut tidak
dapat dijenjangkan atau digradasikan. Sesuatu yang
hidupdapat dipastikan tidak mati, sebaliknya yang mati pastitidak hidup. Jadi, tidak akan pernah ada agak mati, lebih
mati
, atau paling mati. Pasangan kawin dan lajang juga
merupakan pasangan antonim mutlak. Orang yang tidak
atau belum kawin pasti lajang, sebaliknya orang yang
lajang juga dapat dipastikan dia belum atau tidak kawin.
Tidak pernah ada orang yang
agak lajang atau paling
lajang.
Yang ada adalah masih lajang atau sudah kawin.
38Oposisi Tidak MutlakDalam oposisi ini kata-kata yang dipertentangkan
bersifat tidak mutlak atau sering disebut dengan oposisi
kutub. Makna kata yang satu dan kata yang lain yang
dioposisikan itu cenderung bergradasi atau terdapat
tingkat-tingkat makna. Contoh bentuk oposisi kutub dalam
paragraf adalah sebagai berikut.
(25) Pada masa krisis ekonomi sekarang ini, jumlah
orang
miskin bertambah besar. Mereka yang
dulunya dikategorikan sebagai kelompok prasejahtera, kini terpuruk jauh dari kategori itu. Jika
sebelum krisis mereka masih dapat makan nasi
setiap hari, kini ubi pun sulit mereka dapatkan.
Untuk meringankan beban mereka diperlukan
uluran tangan dari berbagai pihak yang
mampu.
Dalam keadaan seperti itu, memang sangat ironis
ternyata masih banyak orang yang ingin
memperkaya diri sendiri.
Dalam oposisi tidak mutlak atau oposisi kutub ini,
pertentangan antarkata bergradasi atau terdapat tingkattingkat makna. Seseorang yang
miskin tidak selalu
beroposisi secara mutlak dengan orang
kaya. Antaramiskin dan kaya itu terdapat tingkatan atau gradasi karena
di dalamnya ada yang
sangat miskin, agak miskin, miskin,agak kaya, kaya, dan sangat kaya.Oposisi HierarkiDalam oposisi hierarki makna kata yang dipertentangkan menyatakan suatu deret jenjang atau tingkatan. Kata-kata yang beroposisi ini merupakan kata-kata
yang berupa nama satuan ukuran, satuan hitungan dan

39
penanggalan, dan jenjang kepangkatan. Contoh pemakaian
bentuk oposisi hierarki dalam paragraf adalah sebagai
berikut.
(26) Menurut Danpuspom TNI, semua yang terlibat
dalam kasus penembakan mahasiswa akan
diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Pemeriksaan dimulai dari
prajurit yang bertugas
di lapangan. Dari pemeriksaan itu kemudian akan
dikembangkan pemeriksaan terhadap komandan
lapangan yang berpangkat
perwira pertama.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan untuk
memeriksa pejabat di atasnya, baik yang
berpangkat
perwira menengah maupun perwira
tinggi,
yang diduga terlibat.
Oposisi makna yang bersifat hierarki ditunjukkan
oleh adanya hubungan makna yang menyatakan suatu
deret jenjang atau tingkatan dari kata yang dipertentangkan itu. Pada contoh (26) kata yang dipertentangkan, yaitu
prajurit, perwira pertama, perwira
menengah,
dan perwira tinggi merupakan tingkatan atau
jenjang kepangkatan dalam militer.
Oposisi RelasionalDalam oposisi ini makna kata-kata yang dipertentangkan bersifat saling melengkapi. Kehadiran kata yang
satu karena adanya kata yang lain yang menjadi
oposisinya. Jadi, kehadiran kedua kata yang dioposisikan
harus ada. Contoh bentuk oposisi ini dalam paragraf
adalah sebagai berikut.

40
(27) Seorang lelaki tua berjalan tertatih-tatih menuruni
tangga rumahnya. Dia seorang
suami yang baik.
Meski sudah tua, dia masih rajin mengurus
kebunnya.
Istri yang dicintainya juga sangat setia
mendampinginya.
Suami-istri itu memang sudah
dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai
pasangan yang sangat serasi. Tidak pernah
terdengar pertengkaran keduanya.
Jika dilihat dari sudut pandang sifatnya, contoh (27)
menunjukkan oposisi relasional. Artinya ialah bahwa
makna kata-kata yang beroposisi relasional ini bersifat
saling melengkapi. Kehadiran kata yang satu karena ada
kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran
keduanya oposisi ini tidak ada. Pada contoh (27), kata
istriitu ada karena adanya kata suami yang menjadi oposisi
atau antonimnya.
(28) Keberhasilan proses belajar mengajar, baik di
sekolah lanjutan maupun di perguruan tinggi,
tidak hanya bergantung pada sosok
guru dandosennya. Banyak faktor yang juga menentukan.Murid dan mahasiswa merupakan faktor yang
penting dalam penentuan keberhasilan itu, di
samping kurikulum.
Guru dan murid serta dosendan mahasiswa harus dapat mengembangkan
sistem yang dialogis.
Dalam relasi ini hubungan antarkata bersifat saling
melengkapi. Keberadaan salah satu kata yang beroposisi
itu mensyaratkan hadirnya kata yang lain. Pada contoh
(28), kata
guru dan murid serta dosen dan mahasiswamerupakan contoh hubungan oposisi relasional. Kebera-
41
daan
guru tidak dapat terlepas dari adanya murid. Begitu
juga dengan kata
dosen pasti tidak terlepas darimahasiswa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
antara yang mengoposisi dan yang dioposisi harus ada.
Oposisi MajemukDalam oposisi majemuk ini, suatu kata yang dipertentangkan mempunyai oposisi lebih dari satu kata. Satu
kata tidak selalu harus beroposisi dengan satu kata saja,
seperti yang tampak pada contoh paragraf berikut ini.
(29) Pertunjukan pentas seni yang dilangsungkan di
lapangan sepak bola semalam berlangsung dalam
suasana meriah. Banyak anggota masyarakat
yang berdatangan dari berbagai kampung.
Mereka yang datang lebih awal sangat beruntung
karena dapat
duduk paling depan. Karena
banyaknya penonton, mereka yang datang
belakangan harus rela
berdiri di belakang.
Suatu kata kadang-kadang berpasangan dengan
beberapa kata yang secara semantis ada keterkaitan
makna. Kata
duduk dapat saja berpasangan dengan
beberapa kata, seperti
berdiri atau jongkok. Pasangan kata
yang demikian itu dinamakan beroposisi majemuk. Hal itu
juga yang diperlihatkan pada contoh (29), yaitu kata
dudukdan berdiri.1.4.2.8 HiponimKehiponiman adalah hubungan yang terjadi antara
kelas yang umum dan subkelasnya. Bagian yang mengacu
pada kelas yang umum disebut superordinat, sedangkan
bagian yang mengacu pada subkelasnya disebut hiponim.

42
Kehiponiman dapat dikatakan sebagai hubungan makna
leksikal yang bersifat hierarkis antara suatu konstituen dan
konstituen yang lain. Relasi makna terlihat pada hubungan
antarkonstituen yang memiliki makna yang khusus.
Hubungan hiponimi dapat berupa superordinat dari
superordinat yang lain (hiponimi bertingkat). Perhatikan
contoh berikut.
(30)
Darah kita terdiri atas empat bagian, yaitu sel
darah merah, sel darah putih, sel pembeku darah,
dan plasma.
Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang berwarna merah sehingga sel
ini berdarah merah. Sel darah ini mengalir di
dalam tubuh dengan membawa oksigen dan
karbondioksida.
Sel darah putih bertugas
menjaga tubuh kita dari kuman. S
el pembeku
darah
membantu proses pembekuan darah ketika
sel itu keluar. Kemudian,
plasma merupakan
cairan dalam darah yang mengandung protein dan
mineral. (Dimodifikasi dari
Republika, ―Luka dan
Memar‖, 30 Maret 2003)
Dalam paragraf tersebut ada hubungan kehiponiman
yang dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun
kepaduan paragraf. Dalam hubungan seperti itu kalimat
topik mengandung unsur superordinat, yaitu makna
umum, sedangkan kalimat-kalimat lain yang menjadi
penjelas mengandung unsur hiponimnya atau makna
khusus.
Dalam paragraf itu yang menjadi unsur superordinat
atau makna umum adalah
darah. Unsur hiponim atau
makna khusus dalam paragraf tersebut adalah
sel darah
43merah, sel darah putih, sel pembeku darah, dan plasmayang disebar ke dalam kalimat–kalimat penjelasnya.1.3.2.9 KemeronimanKemeroniman merupakan konsep yang mengacu
pada hubungan bagian-seluruh, seperti hubungan antara
pohon, akar, batang, dahan, dan ranting. Pohon memiliki
makna hubungan keseluruhan, sedangkan
pohon dandahan memiliki makna hubungan bagian. Kata pohon danbatang merupakan kemeronim yang merupakan bagian
dari leksem
pohon. Dengan demikian, meronim adalah
hubungan makna yang terjadi antara bagian-bagian
sesuatu dan sesuatu itu sendiri secara keseluruhan.
Contoh bentuk konfigurasi kehiponiman itu adalah
seperti berikut ini.
Makna bagian
Contoh:
(31) Dari jauh terlihat seorang pemuda dengan
lincah menunggangi kuda tanpa pelana.
Badannya yang kekar itu mengendalikan kuda melewati
jalan perbukitan yang terjal.
Rambutnya yangakar batang dahan ranting daunpohon(makna keseluruhan)
44
hitam, tebal, dan bergelombang bergoyanggoyang diterpa angin. Demikian pula jubah
putihnya.
Kulitnya yang putih bersih menjadi
agak kemerah-merahan ditimpa sinar matahari.
Ketika jarak makin dekat, makin tampaklah
si penunggang kuda yang gesit itu. Tingginya
sedang,
dadanya bidang dan bahunya lebar. Bila
dipandang,
wajahnya, o betapa tampannya.Dahinya lebar, bola mata hitam kecoklatan, danalisnya melengkung indah. Hidungnya mancung,pipinya halus dan bila tersenyum tampaklah
sederetan
giginya yang tertata rapi. Wajah itu
tampak bercahaya!
Subhanallah bentuk lahiriah
yang sempurna. Boleh jadi Allah sedang tersenyum ketika menciptakan makhluk indah ini.
Pada contoh (31), ada dua paragraf yang memanfaatkan satu kemeroniman. Kata
badan merupakan makna
keseluruhan yang mengacu kepada seorang pemuda yang
sedang mengendarai kuda, sedangkan makna bagiannya
meliputi
rambut, kulit, dada, bahu, wajah, dahi, bola
mata, alis, hidung, pipi
, dan gigi. Dalam menggambarkan
sosok tokoh cerita, pencerita memanfaatkan makna bagian
yang berupa anggota badan. Tiap-tiap bagian dijelaskan
dengan suatu uraian yang mendukung kesempurnaan
sosok yang dittokohkan. Dengan uraian yang menggambarkan kondisi fisik sang tokoh, pembaca yang kebetulan
anak-anak sebagai sasarannya akan dapat dengan mudah
mempunyai bayangan atau gambaran mengenai tokoh itu.
Jalinan antarunsur yang memanfaatkan hubungan
kemeroniman itu sangat cocok untuk wacana yang berupa
cerita. Pembaca dapat dengan mudah memahami apa yang
dimaksud dan diinginkan penulis. Wacana yang disusun

45
pun tampak kohesif dari segi hubungan antarunsurnya dan
koheren dari segi jalinan kepaduan makna keseluruhannya.
1.4.2.10 RepetisiPerulangan adalah penyebutan kembali suatu unit
leksikal yang sama yang telah disebut sebelumnya.
Perulangan dapat berupa perulangan kata, frasa, atau
klausa. Di samping itu, terdapat juga perulangan sebagian
dan perulangan seluruhnya. Dalam perulangan itu,
kemungkinan yang diulang adalah nomina atau verba, atau
kategori kata lainnya.
Contoh:
(32) Ada yang mengusulkan agar kelima orang itu
dibuat
patungnya hingga bisa dikenang setiap
saat. Lama-kelamaan penduduk Armenia tidak
hanya mengunjungi
patung-patung itu, tetapi
mulai menyembahnya.
Patung itu dianggap
berkuasa seperti Tuhan saja. Seorang pemuda
bernama Syakirin sangat sedih dan sering
menangis melihat penduduk Armenia yang
menyembah
patung. Patung itu kan tak bisa apaapa, tetapi mengapa disembah? Pemuda Syakirin
akhirnya digelari Nuh, artinya yang sering
menangis.
Pada contoh paragraf (32), kata
patung diulang
pada setiap kalimat. Kata
patung kalimat pertama yang
berfungsi sebagai objek diulang pada kalimat kedua dalam
fungsi yang sama. Kata itu pada kalimat berikutnya
ditempatkan sebagai subjek. Penempatan kata
patung yang
bervariasi itu di samping dimaksudkan sebagai pemfokusan, juga untuk kohesif dan koherennya paragraf itu.

461.4.3 Kelengkapan dan KetuntasanKelengkapan atau kekompletan merupakan salah
satu syarat paragraf yang baik. Aspek kelengkapan ini
terpenuhi jika semua informasi yang diperlukan untuk
mendukung atau menjelaskan gagasan utama sudah
tercakup. Hal ini berarti bahwa gagasan utama dalam
paragraf harus dikembangkan sesuai dengan informasi
yang diperlukan dan dituntut oleh gagasan utama. Dengan
begitu, pembaca akan memperoleh informasi secara utuh.
Ketuntasan dapat dimaknai kedalaman pembahasan, yakni semakin konkret penggambaran suatu objek
akan semakin jelas informasi yang disampaikan. Ketuntasan bahasan berkaitan dengan kesempurnaan pembahasan materi secara menyeluruh dan utuh. Ini dilakukan
karena pembahasan yang tidak tuntas akan menghasilkan
simpulan yang salah, tidak sahih, dan tidak valid.
Ketuntasan dapat dilakukan dengan klasifikasi, yaitu
pengelompokan objek secara lengkap dan menyeluruh.
Ketuntasan klasifikasi tidak memungkinkan adanya bagian
yang tidak masuk kelompok klasifikasi.
Berikut ini adalah contoh paragraf yang menunjukkan ketuntasan:
(33) Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
keluarga—sebagai organisasi sosial terkecil di
dalam sebuah masyarakat—memiliki peran cukup
penting. Pertama, keluarga dibentuk untuk meneruskan garis keturunan sebagai salah satu
kebutuhan hakiki manusia. Kedua, setiap anggota
dalam keluarga bisa belajar untuk menjalankan
tanggung jawab masing-masing guna menciptakan keluarga yang harmonis. Ketiga, hubungan

47
harmonis antara satu keluarga dan keluargakeluarga lain akan menciptakan kedamaian dalam
masyarakat. Ketiga, keluarga berperan menyosialisasikan pengetahuan tentang budaya tradisional, keyakinan atau agama, dan pentingnya
pendidikan kepada anak-anak sebagai generasi
penerus. (Dimodifikasi dari
Pengetahuan Tradisi
dan Ekspresi Budaya Jawa Timur
, 2013:520)
Gagasan utama dalam paragraf tersebut terdapat
pada kalimat pertama, yaitu beberapa faktor penyebab
keluarga memiliki peran cukup penting. Ada informasi
penting dalam gagasan utama itu yang harus dicermati
untuk dapat mengembangkan menjadi paragraf yang
memenuhi syarat kelengkapan. Informasi penting itu
berupa ungkapan
beberapa faktor yang harus dikembangkan dengan lebih dari satu penjelas.
Paragraf pada contoh (33) tersebut sudah memperlihatkan syarat kelengkapan. Gagasan utama sudah
dijelaskan dengan tiga kalimat pengembang. Dengan
kalimat-kalimat penjelas itu informasi yang dibutuhkan
oleh kalimat topik sudah terpenuhi.
1.4.4 KeruntutanSebuah paragraf dikatakan runtut jika uraian
informasi disajikan secara urut, tidak ada informasi yang
melompat-lompat sehingga pembaca lebih mudah
mengikuti jalan pikiran penulis. Keruntutan paragraf
ditampilkan melalui hubungan formalitas di antara kalimat
yang membentuk paragraf. Hubungan formalitas tersebut
menunjukkan pola urutan penyajian infomasi.
Ada beberapa model urutan informasi, seperti urutan
tempat, urutan waktu, urutan khusus-umum, urutan

48
tingkat, urutan apresiatif, urutan sebab-akibat, dan urutan
tanya-jawab. Tiap-tiap model itu mempunyai karakteristik
yang berbeda-beda. Untuk model urutan tempat, misalnya,
penyajian informasi tentang objek hendaknya disampaikan
secara horizontal, dari kiri ke kanan atau sebaliknya, atau
secara vetikal, dari bawah ke atas atau sebaliknya.
Contoh:
(34) Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di
kota Jepara, Jawa Tengah. Ia merupakan anak
salah seorang bangsawan yang masih sangat taat
pada adat istiadat. Setelah lulus dari sekolah
dasar, ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah
ke tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Ia
dipingit sambil menunggu waktu untuk
dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal
tersebut. Ia ingin menentang, tetapi tidak berani
karena takut dianggap sebagai anak durhaka.
Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmu
pengetahuan kemudian membacanya di taman
rumah dengan ditemani simbok (pembantunya).
Akhirnya, membaca menjadi kegemarannya.
Tiada hari ia lalui tanpa membaca. (Dimodifikasi
dari
www.dbiografi. com)
Untuk model urutan waktu, informasi tentang objek
disajikan secara kronologis. Penulis dapat memulai
penyajian informasi dari awal hingga akhir keadaan,
peristiwa, atau kejadian hingga keadaan terakhir. Penulis
juga dapat menyajikan informasi dari keadaan terakhir
kemudian bergerak ke arah keadaan awal. Dengan kata
lain, penulis dapat menerapkan cara penyajian kilas balik
(
flashback).
49
Penulis juga dapat menerapkan urutan khusus-umum
dalam penyajian informasinya. Dengan model ini,
penyajian informasi dimulai dari hal-hal yang bersifat
khusus dan diakhiri dengan informasi yang bersifat umum.
Meskipun demikian, penulis juga dapat menyajikan
informasi umum terlebih dulu kemudian disusul dengan
informasi-informasi khusus.
Pada contoh (34) tersebut penulis memulai
paparannya dari saat lahir dilanjutkan dengan masa
sekolah. Urutan yang sistematis berdasarkan kronologi
tersebut akan lebih memudahkan pembaca memahami
keseluruhan isi paragraf itu. Seandainya penulis ingin
memaparkan informasi itu secara terbalik (
flashback), itu
pun harus dilakukan secara sistematis.
1.4.5 KonsistensiSudut pandang adalah cara penulis menempatkan
diri dalam karangannya. Dengan kata lain, sudut pandang
dapat diartikan sebagai cara penulis atau pengarang
menempatkan dirinya terhadap cerita atau karangan; atau
dari sudut mana penulis memandang ceritanya. Sudut
pandang ini dalam suatu karangan bisa berupa perspektif
yang hendak dibangun penulis.
Berikut ini merupakan beberapa sudut pandang yang
dapat digunakan penulis dalam karangan.
a. Sudut pandang orang pertama biasanya menggunakan
kata ganti
aku atau saya. Dengan sudut pandang ini
penulis seakan-akan terlibat dalam cerita dan seolaholah bertindak sebagai tokoh cerita.
b. Sudut pandang orang ketiga biasanya menggunakan
kata ganti orang ketiga, seperti
dia atau nama orang
yang menjadi tokoh dalam cerita.

50
c. Sudut pandang pengamat menempatkan penulis sebagai
pengamat serba tahu yang bertindak seolah-olah
mengetahui segala tingkah laku dan peristiwa yang
dialami tokoh.
d. Sudut pandang campuran merupakan kombinasi antara
sudut pandang orang pertama dan pengamat. Dengan
sudut pandang ini penulis mula-mula menggunakan
sudut pandang orang pertama kemudian bertindak
sebagai pengamat yang serba tahu dan bagian kembali
lagi ke sudut pandang orang pertama.
Dari beberapa macam sudut pandang itu, yang
penting untuk diperhatikan adalah konsistensinya. Penulis
harus menetapkan sudut pandangnya terhadap calon
pembaca tulisannya. Dengan penentuan sudut pandang
berdasarkan pembacanya, penulis dapat memilih gaya
penulisan yang tepat. Sudut pandang yang sudah
ditentukan itu seyogyanya dipertahankan dari awal hingga
akhir pembahasan.
Contoh:
(35) Seperti kita ketahui bersama, tidak mudah
mengendalikan anak laki-laki kita yang sedang
dalam masa pubertas. Ulahnya bermacam-macam
dan sering kali sangat menjengkelkan. Sebagai
orang tua, Anda mungkin mempunyai
pengalaman yang menarik untuk menangani
masalah itu. Kemukakanlah pengalaman Anda
melalui rubrik ini. Mungkin pengalaman Anda
dapat membantu orang tua lain dalam mengatasi
masalah anak-anaknya. (
Bahan Penyuluhan
Bahasa Indonesia: Paragraf, 2001
)
51
Pada paragraf 35), penulis menggunakan kata
kitadan Anda secara konsisten. Pemilihan kata kita dan Andatersebut menunjukkan bahwa penulis secara sadar seolaholah ingin mengajak pembaca berkomunikasi langsung.
Penulis menempatkan pembaca sebagai mitra dialog
interaktif. Penggunaan kata
Anda merupakan bentuk
penyapaan kepada pembaca yang efektif. Dengan cara itu
pembaca merasa dilibatkan dalam permasalahan yang
sedang dikomunikasikan dalam paragraf itu. Begitu juga
dengan penggunaan kata
kita, hal itu akan menguatkan
keterlibatan dan keterikatan secara emosional pembaca
dan penulis. Coba bandingkan paragraf (35) dengan
paragraf (36) berikut ini.
(36) Seperti diketahui bersama, tidak mudah mengendalikan anak laki-laki yang sedang dalam masa
pubertas. Ulahnya bermacam-macam dan seringkali sangat menjengkelkan. Sebagai orang tua,
para pembaca mungkin mempunyai pengalaman
yang menarik untuk menangani masalah itu.
Pembaca dapat mengemukakan pengalamannya
melalui rubrik ini. Mungkin pengalaman itu dapat
membantu pembaca-pembaca lain dalam mengatasi masalah anak-anaknya. (
Bahan Penyuluhan
Bahasa Indonesia: Paragraf, 2001
)
Pada paragraf (36), hubungan antara penulis dan
pembaca tidak seerat paragraf (35). Pada paragraf (36),
penulis terkesan tidak mengajak pembaca untuk terlibat
secara langsung dalam komunikaksi. Pembaca seolah-olah
tidak begitu dipedulikan, penulis seakan-akan tidak begitu
menghiraukan apakah pembaca mempunyai perhatian atau
tidak terhadap informasi yang disampaikan. Dengan

52
menggunakan ungkapan
para pembaca, bagi penulis yang
terpenting ialah menyampaikan informasi kepada siapa
saja tanpa pelibatan pembaca sebagai kawan bicara.

53BAB II
JENIS PARAGRAF
2.1 Berdasarkan Pola Pernalaran
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menuangkan gagasan dalam sebuah karangan ilmiah atau
tulisan lainnya. Namun, paling tidak ada kriteria cara
penuangan gagasan itu. Dalam setiap karangan ilmiah,
seluruh gagasan itu dikemas dalam bentuk paragrafparagraf. Dalam setiap paragraf harus dipastikan ada
gagasan pokok atau gagasan utamanya, sedangkan
gagasan lain yang ada di dalam paragraf itu merupakan
penjelas.
Dalam menuangkan gagasan itu, kita harus
memperhatikan pola pernalaran. Berdasarkan pola
pernalaran itu, pengelompokan paragraf didasarkan pada
penempatan gagasan utama. Berdasarkan letak gagasan
utama itu, paragraf dapat dibedakan atas paragraf deduktif,
induktif, deduktif-induktif, ineratif, dan menyebar.
2.1.1 Paragraf DeduktifParagraf deduktif adalah paragraf yang ide pokok
atau gagasan utamanya terletak di awal paragraf dan
diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas untuk mendukung
gagasan utama. Ide pokok atau gagasan utama berupa
pernyataan umum yang dikemas dalam kalimat topik.
Kalimat topik itu kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat

54
pengembang yang berfungsi memperjelas informasi yang
ada dalam kalimat topiknya.
Contoh:
(37) Tenaga kerja yang diperlukan dalam persaingan
bebas adalah tenaga kerja yang mempunyai etos
kerja tinggi, yaitu tenaga yang pandai, terampil,
dan berkepribadian. Tenaga kerja yang pandai
adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan
akademis memadai sesuai dengan disiplin ilmu
tertentu. Terampil artinya mampu menerapkan
kemampuan akademis yang dimiliki disertai
kemampuan pendukung yang sesuai untuk
diterapkan agar diperoleh hasil maksimal.
Sementara itu, tenaga kerja yang berkepribadian
adalah tenaga kerja yang mempunyai sikap loyal,
disiplin, dan jujur.
Paragraf (37) di atas termasuk paragraf deduktif
karena kalimat topiknya terdapat pada awal paragraf.
Kalimat topik paragraf (37) tersebut adalah
tenaga kerja
yang diperlukan dalam persaingan bebas tenaga kerja
adalah tenaga kerja yang mempunyai etos kerja tinggi,
yaitu tenaga yang pandai, terampil, dan berkepribadian
.
Kalimat topik itu kemudian dikembangkan dengan
kalimat-kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas itu
masing-masing menguraikan butir-butir yang diperlukan
untuk mempertegas informasi dalam kalimat topik tentang
etos kerja tinggi, yang meliputi kepandaian, keterampilan,
dan kepribadian tenaga kerja.
2.1.2 Paragraf InduktifParagraf induktif adalah paragraf yang kalimat
topiknya terdapat pada bagian akhir. Secara garis besar,

55
paragraf induktif mempunyai ciri-ciri, yaitu a) diawali
dengan penyebutan peristiwa-peristiwa khusus yang
berfungsi sebagai penjelas dan merupakan pendukung
gagasa utama dan b) kemudian menarik simpulan
berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus itu.
Untuk menjaga koherensi antarkalimat dalam
paragraf, dalam perumusan kalimat simpulan itu acap
digunakan konjungsi penumpu kalimat yang sekaligus
berfungsi sebagai konjungsi antarkalimat. Kata atau frasa
yang biasa digunakan sebagai penumpu kalimat simpulan
itu adalah
jadi, akhirnya, akibatnya, oleh karena itu, maka
dari itu, berdasarkan uraian di atas,
dan dengan
demikian.
Karena fungsinya sebagai penumpu kalimat, katakata tersebut diletakkan di awal kalimat dan tentu saja
harus diawali dengan huruf kapital. Karena fungsinya juga
sebagai konjungsi antarkalimat (
konjungsi ekstraklausal),
kata-kata tersebut harus diikuti tanda baca koma.
Contoh:
(38) Salju yang turun dari langit memberikan hiasan
yang indah untuk bumi. Beberapa kota disulap
dengan nuansa putih, menghasilkan pemandangan cantik dan memikat bagi penikmat
keindahan. Hawa dinginnya semakin hari menggigit kawasan-kawasan yang beriklim subtropis
dan sedang ini. Inilah musim dingin yang terjadi
di negeri matahari terbit.
Paragraf (38) diawali dengan perincian yang berupa
peristiwa-peristiwa khusus. Peristiwa khusus itu berupa
salju yang turun, keadaan kota yang memutih karena salju,
dan hawa dingin yang menyelimuti beberapa wilayah di

56
Jepang. Semua peristiwa khusus itu kemudian disimpulkan bahwa itulah keadaan Jepang saat musim dingin.
Tulisan dengan pemaparan semacam itu dapat dikategorikan sebagai paragraf induktif, suatu paragraf yang
dimulai dengan hal khusus kemudian diakhiri dengan
pernyataan umum yang merupakan kalimat topiknya.
2.1.3 Paragraf Deduktif-Induktif (Campuran)Paragraf deduktif-induktif adalah paragraf yang
kalimat topiknya terdapat pada bagian awal dan akhir
paragraf. Meskipun ada dua kali pemunculan kalimat
topik, hal itu bukan berarti gagasan utamanya ada dua.
Adanya dua kalimat topik itu hanya merupakan bentuk
pengulangan gagasan utama untuk mempertegas informasi.
Paragraf dengan pola ini dimulai dari pernyataan
yang bersifat umum, diikuti dengan pernyataan-pernyataan
yang bersifat khusus sebagai penjelas, dan diakhiri dengan
pernyataan umum lagi yang merupakan pengulangan
gagasan utama. Biasanya gagasan utama pada akhir
paragraf dikemas dengan kalimat topik yang agak berbeda
dengan kemasan kalimat topik pertama.
Contoh:
(39)
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa
tingginya kolesterol merupakan faktor risiko
yang paling besar yang menyebabkan seseorang terserang penyakti jantung koroner
.
Hampir 80% penderita jantung koroner di Eropa
disebabkan kadar kolesterol dalam tubuh yang
tinggi. Bahkan, di Amerika hampir 90% penderita
jantung koroner disebabkan penderita makan
makanan yang berkadar kolesterol tinggi. Begitu

57
juga di Asia, sebagian besar penderita jantung
koroner disebabkan oleh pola makan yang banyak
mengandung kolesterol.
Dengan demikian, kolesterol merupakan penyebab utama penyakit
jantung koroner.
Gagasan utama paragraf (39) tersebut adalah kolesterol merupakan penyebab penyakit jantung koroner.
Gagasan utama itu kemudian diikuti oleh tiga kalimat
penjelas. Ketiga kalimat penjelas itu adalah (1)
hampir
80% penderita jantung koroner di Eropa disebabkan
kadar kolesterol dalam tubuh yang tinggi
; (2) di Amerika
hampir 90% penderita jantung koroner disebabkan
penderita makan makanan yang berkadar kolesterol
tinggi
; (3) di Asia sebagian besar penderita jantung
koreoner disebabkan oleh pola makan yang banyak
mengandung kolesterol
. Ketiganya merupakan penjelas
atau penegas bahwa kolesterol menjadi penyebab utama
penyakit jantung koroner.
2.1.4 Paragraf IneratifParagraf inretaif adalah paragraf yang kalimat
utamanya terletak di tengah-tengah paragraf. Paragraf ini
diawali dengan kalimat-kalimat penjelas sebagai pengantar kemudian diikuti gagasan utama dan ditambahkan
lagi kalimat-kalimat penjelas untuk menguatkan atau
mempertegas informasi.
Contoh:
(40) Gunung Sinabung di Sumatera Utara meletus.
Belum reda letusan Gunung Sinabung, Gunung
Kelud di Jawa Timur juga meletus. Selain gunung
berapi yang meletus itu, banjir terjadi di beberapa
daerah. Ibu kota Jakarta, seperti tahun-tahun

58
sebelumnya, dilanda banjir. NTT yang sering
mengalami kekeringan juga dilanda banjir.
Indonesia memang sedang ditimpa banyak
musibah dan bencana
. Bencana-bencana
tersebut menelan korban, baik harta maupun jiwa.
Padi di sawah-sawah yang siap panen menjadi
gagal panen. Sayur mayur yang banyak ditanam
dan dihasilkan di lereng-lereng gunung juga
hancur sehingga harga di pasar menjadi
melambung.
Gagasan utama paragraf tersebut adalah
Indonesia
sedang ditimpa banyak musibah dan bencana
. Dalam
menyampaikan informasi penulis memulai dengan menampilkan hal-hal yang bersifat khusus. Penulis mengawalinya dengan menampilkan bermacam-macam peristiwa
yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia kemudian
menyimpulkannya dalam bentuk kalimat topik. Untuk
menegaskan bahwa semua yang terjadi itu merupakan
musibah yang menimpa masyarakat Indonesia, penulis
menambahkan informasi yang berupa akibat dari bencana
itu.
2.1.5 Ide Pokok MenyebarParagraf dengan pola semacam itu tidak memiliki
kalimat utama. Pikiran utamanya menyebar pada seluruh
paragraf atau tersirat pada kalimat-kalimatnya.
Contoh:
(41) Matahari belum tinggi benar. Embun masih
tampak berkilauan. Warna bunga menjadi sangat
indah diterpa sinar matahari. Tampak kupu-kupu

59
dengan berbagai warna terbang dari bunga yang
satu ke bunga yang lain. Angin pun semilir terasa
menyejukkan hati.
Gagasan utama paragraf (41) tersebut tidak terdapat
pada kalimat pertama, kedua, dan seterusnya. Untuk dapat
memahami gagasan utama paragraf itu, pembaca harus
menyimpulkan isi paragraf itu. Dengan memperhatikan
setiap kalimat dalam paragraf itu, kita dapat menyarikan
isinya, yaitu gambaran suasana pada pagi hari yang cerah.
Inti sari itulah yang menjadi gagasan utamanya.
2.2 Berdasarkan Gaya Ekspresi/PengungkapanSuatu gagasan dapat diungkapkan dengan berbagai
gaya bergantung pada tujuan komunikasinya. Tujuan
komunikasi yang berbeda pasti akan disampaikan dengan
gaya pengungkapan yang berbeda pula. Misalnya, jika
komunikasi tersebut bertujuan untuk memberikan
informasi secara objektif tanpa bermaksud memengaruhi
atau mengajak, gagasan itu dapat disampaikan dengan
corak eksposisi. Suatu gagasan yang disampaikan dengan
maksud untuk meyakinkan orang lain tidak mungkin
diungkapkan dengan corak deskripsi. Penulis tentu akan
memilih gaya pengungkapan yang paling sesuai, yaitu
argumentasi.
Gaya atau corak ekspresi meliputi narasi, deskripsi,
eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Adapun perincian
tiap-tiap gaya itu adalah sebagai berikut.
2.2.1 Paragraf Narasi (Kisahan)
Narasi
merupakan gaya pengungkapan yang
bertujuan menceritakan atau mengisahkan rangkaian

60
kejadian atau peristiwa--baik peristiwa kenyataan maupun
peristiwa rekaan--atau pengalaman hidup berdasarkan
perkembangannya dari waktu ke waktu sehingga tampak
seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu.
Paragraf narasi dimaksudkan untuk memberi tahu
pembaca atau pendengar tentang sesuatu yang diketahui
atau dialami penulis supaya pembaca terkesan.
Ciri utama paragraf narasi adalah adanya peristiwa
atau kejadian, baik yang benar-benar terjadi atau berupa
imajinasi maupun gabungan keduanya, yang dirangkai
dalam urutan waktu. Di dalam peristiwa itu ada pula tokoh
yang menghadapi suatu konflik. Konflik itulah yang dapat
menambah daya tarik cerita. Jadi, ketiga unsur yang
berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur
pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga
unsur itu disebut plot atau alur.
Narasi, berdasarkan tujuannya, dapat dibedakan
atas narasi ekspositoris, artistik, dan sugestif.
Narasi
ekspositoris
berisi penyampaian informasi secara tepat
tentang suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya
dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang
kisah seseorang (biasanya satu orang). Pelaku diceritakan
mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam
kehidupannya.
Narasi artistik berusaha untuk
memberikan suatu maksud tertentu atau menyampaikan
suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau
pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.
Narasi
sugestif
berusaha untuk memberikan suatu maksud
tertentu dan menyampaikan suatu amanat secara
terselubung kepada para pembaca atau pendengar
sehingga tampak seolah-olah melihat.
Berdasarkan sifat informasinya, ada narasi yang
berupa fakta dan narasi yang berupa fiksi. Contoh narasi

61
yang berisi fakta adalah biografi, autobiografi, atau kisah
pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi adalah
novel, cerita pendek, cerita bersambung, dan cerita
bergambar.
Contoh:
(42) Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin
Jusuf Habibie merupakan salah seorang tokoh
anutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak
orang di Indonesia. Presiden ketiga Republik
Indonesia itu dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi
Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau
merupakan anak keempat dari delapan
bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie
dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie
yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada
tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang
putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Masa kecil Habibie dilalui bersama saudarasaudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat
tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan
Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya
kegemaran menunggang kuda dan membaca ini
dikenal sangat cerdas sejak masih duduk di
sekolah dasar. (Dimodifikasi dari
www.dbiografi.com)
Berdasarkan sifat informasinya, paragraf (42) di atas
dapat dikategorikan sebagai paragraf
narasi yang berisi
fakta.
Penulis berusaha menceritakan tokoh menurut
realitas atau fakta sebenarnya. Tokoh yang digambarkan
merupakan sosok yang benar-benar hidup dan peristiwa
yang dialami tokoh juga benar-benar terjadi. Tokoh

62
Habibie benar lahir di Pare-Pare pada 25 Juni 1936 anak
dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti
Marini Puspowardojo. Apa yang dialami Habibie dalam
narasi itu tidak ditambah atau dikurangi. Sementara itu,
berdasarkan tujuan penulisannya, paragraf (42) itu
digologkan ke dalam paragraf
narasi ekspositoris.Penulis menyampaikan informasi secara tepat tentang
suatu peristiwa yang dialami tokoh Habibie berdasarkan
data yang sebenarnya dengan maksud memperluas
pengetahuan pembaca.
(43) Dengan sekuat tenaga aku menggunakan jariku
untuk menulis. Tuhan Mahabesar membiarkan
tanganku yang lumpuh dapat bergerak. Walau
banyak yang ingin kutulis, tetapi tanganku mulai
tak kuat bergerak. Aku hanya ingin melihat
keluargaku bahagia dan rukun. Aku ingin ketika
aku pergi keluarga bisa ikhlas dan menerima
semua ini. Lima belas tahun lamanya Keke bisa
hidup dalam sebuah kebahagiaan di dunia ini.
Paragraf tersebut, berdasarkan sifat infomasi,
merupakan contoh paragraf narasi yang berupa fiksi.
Penulis memaparkan kisah tokoh menurut rekaan atau
imajinasinya meskipun kadang-kadang ada yang merupakan pengalaman hidup penulis atau orang lain. Namun,
dalam paparannya penulis sudah menambahkan berbagai
hal untuk menjadikan tulisannya menarik.
2.2.2 Paragraf DeskripsiParagraf deskripsi berisi gambaran mengenai suatu
objek atau suatu keadaan sejelas-jelasnya dengan
melibatkan kesan indera. Paragraf ini bertujuan untuk

63
memberikan kesan/impresi kepada pembaca terhadap
objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang
ingin disampaikan penulis. Melalui pengesanan ini
pembaca seolah-olah berada di suatu tempat dan dapat
melihat, mendengar, meraba, mencium, atau merasakan
apa yang tertulis dalam paragraf tersebut.
Paragraf deskripsi mempunyai beberapa pola
pengembangan, yaitu (1) pola deskripsi spasial, (2) pola
deskripsi sudut pandang, (3) pola deskripsi pengamatan
(observasi), dan (4) pola deskripsi fokus.
1) Pola deskripsi spasial merupakan suatu pola pengembangan paragraf yang menggambarkan objek berupa
ruang, benda, atau tempat.
Contoh:
(44) Ruangan berukuran 9m x 8m ini sungguh sangat
nyaman ditempati. Sebuah sofa empuk
berwarna putih dengan meja kayu berada di
tengah ruangan. Sementara itu, rak buku berisi
beberapa novel dan buku-buku ilmiah
diletakkan mepet dengan dinding sebelah
selatan bersanding dengan sebuah pot berisi
pohon palem kecil yang seakan-akan menyatu
dengan tembok yang dicat dengan warna hijau
muda. Di luar ruangan, terdapat sebuah kolam
kecil berukuran 2,5m x 2m berisi beberapa ikan
koi yang berseliweran. Suara gemericik air dari
kolam menambah sejuknya suasana di ruang
tamu milik Pak Toni ini.
2) Pola deskripsi sudut pandang merupakan suatu pola
sudut pandang yang didasarkan atas posisi penulis
dalam menggambarkan suatu objek. Pola pengem-

64
bangan sudut pandang dibagi menjadi dua, yaitu sudut
pandang subjektif dan sudut pandang objektif.
a. Pola subjektif adalah pola pengembangan paragraf
deskripsi dengan cara menggambarkan objek sesuai
dengan penafsiran yang disertai kesan atau opini dari
penulis.
(45) Pantai Wediombo mungkin hanya salah satu di
antara sekian banyak pantai yang masih belum
terjamah di Kabupaten Gunung Kidul,
Yogyakarta. Pantai dengan hamparan pasir
putih mahaluas ini seolah menggoda kaki
untuk terus memijak dan berjalan-jalan di
atasnya. Di kanan kiri pantai dapat kita lihat
bukut-bukit kapur hijau ditumbuhi lumut yang
berdiri gagah menantang derasnya ombak
pantai. Suasana pantai yang sepi juga
menambah pesona pantai yang masih perawan
ini.
b. Pola objektif adalah pola pengembangan paragraf
deskripsi dengan cara menggambarkan objek secara
apa adanya tanpa disertai opini penulis.
(46) Pantai Wediombo terletak di Kecamatan
Girisobo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Pantai ini berjarak 70
km atau dua jam perjalanan dari pusat Kota
Yogyakarta. Di kanan kiri pantai landai yang
berpasir putih ini, kita dapat melihat gugusan
bukit kapur yang berwarna hijau ditumbuhi
lumut. Namun yang perlu diperhatikan, pantai

65
ini memiliki ombak yang cukup besar
sehingga wisatawan dilarang berenang di
pantai ini karena sangat berbahaya.
3) Pola deskripsi pengamatan (observasi) adalah suatu
pola paragraf yang dikembangkan dengan melakukan
pengamatan terhadap objek yang akan dideskripsikan.
Pembaca seolah-olah dapat melihat atau mengalami
sendiri tentang objek yang dilukiskan.
Contoh:
(47) Setiap sore terlihat awan mendung menggantung.
Awan mendung dianggap pertanda akan turun
hujan. Awan bergulung-gulung tertiup angin. Ada
yang bersatu dengan awan lain. Ada juga yang
berpencar. Tidak lama petir menyambar.
Kemudian, hujan pun turun. Hujan turun dengan
sangat deras. Air mengalir ke segala arah dan
menggenang di mana-mana. Rupanya peresapan
air ke dalam tanah semakin berkurang akibat
betonisasi.
4) Pola deskripsi fokus merupakan suatu pola paragraf
yang dikembangkan dengan menonjolkan suatu bagian
objek yang dideskripsikan. Perhatian pembaca atau
pendengar terfokus pada bagian objek yang
dideskripsikan. Paragraf deskripsi fokus ini dapat
digunakan untuk menjelaskan peristiwa, objek benda,
atau manusia. Paragraf ini menggunakan pilihan kata
atau kalimat yang tepat dan menarik perhatian
pembaca.

66
Contoh:
(48) Suasana pagi hari di Taman Wisata Kaliurang
sangat sejuk. Kicau burung bersahut-sahutan.
Semilir angin sepoi-sepoi menambah sejuknya
udara pagi. Warna-warni bunga yang ada di
taman membuat orang betah duduk. Taman
dihiasi pepohonan. Taman itu juga dihiasi
beberapa patung bangau putih. Patung-patung itu
terlihat sangat unik. Di tengah taman terdapat
kolam. Di tengah kolam terdapat air mancur.
Aneka mainan anak-anak turut melengkapi
Taman Wisata Kaliurang.
Fokus yang dibicarakan dalam paragraf tersebut
adalah sebuah taman di tempat wisata di Kaliurang. Selain
menggambarkan peristiwa, paragraf deskripsi dapat
digunakan untuk menjelaskan objek benda atau manusia.
Misalnya: 1. Saraswati berperawakan tinggi semampai.
Rambutnya lurus sebahu. Kulitnya sawo
matang. Sorot matanya teduh dan hidungnya
mancung.
2. Benda ini digunakan untuk membersihkan
debu. Benda ini terbuat dari bulu ayam dan
rotan.
2.2.3 Paragraf EksposisiParagraf eksposisi merupakan paragraf yang
bertujuan untuk menginformasikan sesuatu sehingga
memperluas pengetahuan pembaca. Paragraf eksposisi
bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber untuk penulisan paragraf

67
ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau
pengalaman.
Paragraf eksposisi tidak selalu terbagi atas bagianbagian yang disebut pembukaan, pengembangan, dan
penutup. Hal ini sangat bergantung pada sifat tulisan dan
tujuan yang hendak dicapai. Adapun ciri-ciri paragraf
eksposisi, antara lain, adalah (a) berusaha menjelaskan
sesuatu, (b) gaya tulisan bersifat informatif, (c) fakta
dipakai sebagai alat kontribusi, dan (d) fakta dipakai
sebagai alat untuk mengonkretkan informasi.
Paragraf eksposisi dapat dikembangkan melalui
klasifikasi, ilustrasi, perbandingan/pertentangan, laporan,
proses, atau definisi. Dalam pengembangan dengan
klasifikasi, kalimat-kalimat penjelasnya merupakan bentuk
pengelompokan dari gagasan utamanya. Contoh paragraf
eksposisi dengan klasifikasi ini adalah sebagai berikut.
(49) Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban
gempa. Bantuan pembangunan rumah atau
bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat
kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak
ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga
yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan
sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat
mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon
penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat
desa setempat dengan pengawasan dari pihak
LSM.
Pada contoh tersebut, pengklasifikasian terjadi
pada kalimat pengembang taklangsungnya. Pengklasifikasian itu menjadi penjelas dari kalimat pengembang

68
langsung. Jadi, kalimat (3)
warga yang rumahnya rusak
ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta
; kalimat (4)warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan
sekitar 20 juta
; dan kalimat (5) warga yang rumahnya
rusak berat mendapat bantuan sekitar 30 juta
merupakan
pengelompokan dari kalimat pengembang langsung
(kalimat 2), yaitu
bantuan pembangunan rumah atau
bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat
kerusakannya
.
Dalam paragraf eksposisi dengan ilustrasi, gagasan
utama dijelaskan dengan kalimat-kalimat pengembang
dalam bentuk ilustrasi. Penulis ingin memaparkan sesuatu
dengan cara menyajikan gambaran umum atau khusus
tentang sesuatu yang dianggap belum diketahui atau
belum dipahami pembaca. Paparan tentang sesuatu itu
disajikan berdasarkan kesan yang ditangkap oleh indera.
Contoh paragraf eksposisi dengan ilustrasi adalah sebagai
berikut.
(50) Cengkeh, pohon yang tetap hijau, mempunyai
nama latin
Sysygium aromatikum (Eugeniacarllophulinta). Cengkeh merupakan tanaman
asli di Kepulauan Maluku. Kuncup bunganya
yang belum terbuka merupakan rempah yang
penting. Di samping penggunaan terpenting
sebagai rempah-rempah, kuncup bunganya yang
berbentuk paku, jika sudah dikeringkan, dipakai
sebagai campuran tembakau di Pulau Jawa, lebihlebih sesudah tahun 1915 dengan pesatnya
perusahaan rokok kretek di Kudus. Di tempattempat lain, kadang-kadang sesudah digiling,
cengkeh digunakan untuk mengharumkan kue.
Cengkeh juga menghasilkan minyak uap yang

69
digunakan sebagai bahan obat-obatan dan minyak
wangi.
(51) Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu
dengan perasaan takut? Bagaimana cara
mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk
mengatasi rasa takut tersebut. Pertama,
persiapkan diri Anda sebaik-baiknya bila
menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua,
pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi
tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya
diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri,
pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk
menambah rasa percaya diri, kita harus
menambah kecakapan atau keahlian melalui
latihan atau belajar sungguh–sungguh.
Paragraf eksposisi juga dapat dibuat dengan cara
mempertentangkan sesuatu yang menjadi ide pokok
dengan sesuatu yang lain. Banyak hal yang dapat
dipertentangkan tentang sesuatu. Pada contoh berikut ini
penulis ingin memaparkan udang vannamei dengan cara
mempertentangkannya dengan jenis udang yang lain, yaitu
udang windu. Penulis ingin memberi tahu pembaca bahwa
ada jenis udang yang kualitasnya lebih baik daripada
udang windu yang telah dikenal masyarakat. Perhatikan
contoh berikut.
(52) Di lapangan, saat ini para petambak justru tengah
membudidayakan benih udang vannamei.
Meskipun harganya lebih murah dari udang
windu, udang vannamei punya keunggulan.
Udang ini tahan dari berbagai penyakit,

70
sedangkan udang windu sangat rentan dengan
penyakit.
Dalam paragraf itu tampak dengan jelas kelebihan
udang vannamei yang ingin dipaparkan penulis. Dari segi
harga, udang vannamei lebih murah daripada udang
windu. Dari segi ketahanan, udang vannamei juga lebih
tahan penyakit daripada udang windu. Cara seperti itu
sangat cocok untuk mempromosikan suatu produk baru.
Pembaca dapat membandingkan produk baru itu dengan
produk lain atau produk lama yang serupa.
Paragraf eksposisi juga disajikan dalam bentuk
laporan. Dengan cara ini penulis ingin menyampaikan
informasi kepada pembaca tentang sesuatu secara objektif.
Contoh paragraf eksposisi laporan ini adalah sebagai
berikut.
(53) Sebenarnya, bukan hanya ITS yang menawarkan
rumah instan sehat untuk Aceh atau dikenal
dengan Rumah ITS untuk Aceh (RI-A). Pusat
Penelitian dan Pengembangan Permukiman,
Departemen Pekerjaan Umum juga menawarkan
―Risha‖ alias Rumah Instan Sederhana Sehat.
Modelnya hampir sama, gampang dibongkarpasang, bahkan motonya ―Pagi Pesan, Sore
Huni‖. Bedanya, sistem struktur dan konstruksi
Risha memungkinkan rumah ini berbentuk
panggung. Harga Risha sedikit lebih mahal, Rp20
juta untuk tipe 36. Akan tetapi, usianya dapat
mencapai 50 tahun karena komponen struktur
memakai beton bertulang, diperkuat pelat baja di
bagian sambungannya. Kekuatannya terhadap

71
gempa juga telah diuji di laboratorium sampai
zonasi enam.
Paragraf eksposisi juga dapat dikembangkan
berdasarkan proses. Dalam menyampaikan informasi,
penulis memaparkan suatu kondisi yang diikuti dengan
kondisi yang lain. Hal itu tampak pada contoh berikut ini.
(54) Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban
gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini terlihat
di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya di
Desa Piyungan, sampai saat ini warga desa itu
hanya makan singkong. Mereka mengambilnya
dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang
makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang
mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan.
Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan
pemerintah kurang merata.
Paragraf eksposisi paling lazim dibuat dengan
menggunakan pengembangan definisi. Dalam paragraf ini,
gagasan utama dijelaskan dengan kalimat pengembang
yang berupa definisi. Gagasan utama diberi pengertian dan
diuraikan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Contoh
paragraf eksposisi definisi ini adalah sebagai berikut.
(55) Terapi ozon adalah pengobatan suatu penyakit
dengan cara memasukkan oksigen ,urni dan ozon
berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah.
Terapi ozon merupakan terapi yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk
menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun
sebagai pencegah penyakit.

722.2.4 Paragraf PersuasifParagraf persuasi adalah paragraf yang berisi
ajakan. Paragraf persuasi bertujuan untuk membujuk
pembaca agar mau melakukan sesuatu sesuai dengan
keinginan penulisnya. Agar tujuannya dapat tercapai,
penulis harus mampu menyampaikan bukti dengan data
dan fakta pendukung.
Contoh paragraf persuasi yang sering kita temukan
adalah propaganda yang dilakukan oleh berbagai lembaga,
badan, atau organisasi serta iklan yang disampaikan dalam
berbagai media untuk menarik perhatian konsumen dan
mempromosikan suatu produk. Untuk mengajak atau
mengimbau pembaca, penulis dapat menggunakan
ungkapan persuasif, seperti
ayo atau mari.
Contoh:
(56) Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk
menghasilkan penduduk yang berkualitas sebagai
modal pembangunan. Tingkat pendidikan
seseorang akan berpengaruh bagi penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat sangat
penting pada abad ke-21 ini. Sebagai negara
berkembang, Indonesia masih memiliki tingkat
pendidikan yang bisa dibilang masih cukup
rendah. Menurut data United Nation
Development Programme (UNDP), tingkat
pendidikan masyarakat Indonesia berada di
peringkat 124 dari 187 negara yang disurvei.
Tingginya angka putus sekolah karena ketidakadaan biaya mungkin menjadi sebab rendahnya
tingkat pendidikan masyarakat Indonesia ini.

73
Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan
menjadi tanggung jawab seluruh komponen
bangsa. Seluruh lapisan masyarakat harus
mengambil peran dalam pendidikan ini. Seluruh
komponen masyarakatlah yang seharusnya
membantu mereka yang membutuhkan agar dapat
melanjutkan pendidikannya.
(57) Pencemaran Sungai Ciliwung sudah sangat parah
dan dapat dikategorikan sebagai pencemaran
tingkat berat. Rumah tangga merupakan
penyumbang terbesar sampah di Sungai
Ciliwung. Jika kondisi ini terus berlanjut,
sejumlah daerah yang menggantungkan sumber
air dari Sungai Ciliwung dikhawatirkan akan
mengalami krisis. Untuk itu, kesadaran untuk
menjaga lingkungan perlu ditanamkan secara
kuat kepada masyarakat. Jika lingkungan terjaga,
kita jugalah yang akan diuntungkan.
Dalam paragraf persuasi, penulis ingin memengaruhi pembaca atau mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu. Persuasi paragraf (56) tampak pada tiga
kalimat terakhir, yaitu
sudah saatnya pendidikan menjadi
tanggung jawab seluruh komponen bangsa; Seluruh
lapisan masyarakat harus mengambil peran dalam
pendidikan ini;
dan seluruh komponen masyarakatlah
yang seharusnya membantu mereka yang membutuhkan
agar dapat melanjutkan pendidikannya
. Sementara itu,
dalam paragraf (57) bentuk persuasi ditunjukkan pada dua
kalimat terakhir, yaitu
Kesadaran untuk menjaga
lingkungan perlu ditanamkan secara kuat kepada

74masyarakat dan Jika lingkungan terjaga, kita jugalah
yang akan diuntungkan
.2.2.5 Paragraf ArgumentasiParagraf argumentasi atau paragraf bahasan adalah
suatu corak paragraf yang bertujuan membuktikan
pendapat penulis agar pembaca menerima pendapatnya.
Dalam paragraf ini penulis menyampaikan pendapat yang
disertai penjelasan dan alasan yang kuat dan meyakinkan
dengan maksud agar pembaca bisa terpengaruh.
Dasar tulisan argumentasi adalah berpikir kritis
dan logis berdasarkan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Fakta-fakta tersebut dapat diperoleh
dengan berbagai cara, antara lain, bahan bacaan (buku,
majalah, surat kabar, atau internet), wawancara atau
angket, penelitian atau pengamatan langsung melalui
observasi. Selain itu, paragraf ini harus dijauhkan dari
emosi dan unsur subjektif.
Paragraf argumentasi dapat dikembangkan dengan
pola sebab-akibat, yakni menyampaikan terlebih dahulu
sebab-sebabnya dan diakhiri dengan pernyataan sebagai
akibat dari sebab tersebut. Dalam penggunaannya, pola
sebab-akibat dapat disajikan menjadi akibat-sebab, yaitu
menyampaikan terlebih dahulu akibatnya kemudian dicari
sebab-sebabnya. Kata penghubung antarkalimat yang
dapat digunakan dalam paragraf ini, antara lain, adalah
oleh karena itu, dengan demikian, oleh sebab itu.
Contoh:
(58) Memilih SMA tanpa pertimbangan yang matang
hanya akan menambah pengangguran karena
pelajaran di SMA tidak memberi bekal bekerja.
Menurut Iskandar, sudah saatnya masyarakat
mengubah paradigma agar lulusan SMP tidak latah

75masuk SMA. Kalau memang lebih berbakat pada jalur
profesi, sebaiknya lulusan SMP memilih SMK. Dia
mengingatkan sejumlah risiko bagi lulusan SMP yang
sembarangan melanjutkan sekolah. Misalnya, lulusan
SMP yang tidak mempunyai potensi bakat-minat ke
jalur akademik sampai perguruan tinggi, tetapi
memaksakan diri masuk SMA, dia tidak akan lulus
UAN karena sulit mengikuti pelajaran di SMA.
Namun, tanpa lulus UAN mustahil bisa sampai
perguruan tinggi.
Dalam paragraf argumentasi, suatu gagasan utama
dijelaskan dengan kalimat pengembang yang berupa
alasan. Dengan data atau bukti yang nyata, pernyataan
dalam gagasan utama semakin kuat. Penulis ingin
meyakinkan pembaca terhadap ide atau gagasan utama
yang dikemukakannya dengan argumen disertai fakta.
Penulis ingin menyampaikan pesan bahwa
dalam memilih
sekolah perlu pertimbangan yang matang supaya tidak
menambah pengangguran
. Penulis memberi argumen
bahwa seseorang yang berorientasi kerja tidak masuk
SMA, tetapi memilih SMK karena SMA tidak memberi
bekal kerja. Kalimat (2) pada paragraf (58) hingga kalimat
terakhir merupakan fakta yang menguatkan gagasan
utamanya.
2.3 Berdasarkan UrutanPada umumnya suatu karangan terdiri atas tiga
bagian, yaitu (1) paragraf pembuka, (2) paragraf isi, dan
(3) paragraf penutup. Ketiga jenis paragraf itu merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari struktur karangan.
Paragraf pembuka, paragraf isi, dan paragraf penutup
terjalin sangat erat satu sama lain dan terpadu.

762.3.1 Paragraf Pembuka/PengantarParagraf ini merupakan pembuka untuk sampai
pada permasalahan yang dibicarakan. Dengan kata lain
paragraf pembuka itu mengantarkan pembaca pada
pembicaraan. Berkaitan dengan itu, paragraf ini berfungsi
untuk memberi tahu latar belakang, masalah tujuan, dan
anggapan dasar. Pengantar yang baik dapat mengetuk hati
dan memperoleh simpati, menggugah minat dan gairah
orang lain untuk mengetahui lebih banyak.
Ada beberapa fungsi paragraf pengantar, di antaranya, yaitu (1) menunjukkan pokok persoalan yang
mendasari masalah, (2) menarik minat pembaca dengan
mengungkapkan latar belakang dan pentingnya pemecahan masalah, (3) menyatakan tesis, yaitu ide sentral
karangan yang akan dibahas, dan (4) menyatakan pendirian (pernyataan maksud) sebagai persiapan ke arah
pendirian selengkapnya sampai dengan akhir karangan.
Untuk dapat menarik simpati atau perhatian
pembaca, penulis dapat melakukan berbagai upaya. Upaya
yang dimaksud di antaranya adalah dengan (1) menyampaikan berita hangat, (2) menyampaikan anekdot, (3)
memberikan latar belakang, suasana, atau karakter, (4)
memberikan contoh konkret berkenaan dengan pokok
pembicaraan, (5) mengawali karangan dengan suatu pernyataan yang tegas, (6) menyentak pembaca dengan suatu
peryataan tajam, (7) menyentak dengan perbandingan,
analogi, atau kesenjangan kontras, (8) mengungkapkan
isu-isu penting yang belum terungkap, dan 9) mengungkap
peristiwa yang luar biasa.

77
Contoh:
(59) Asam urat merupakan terjemahan dari uric acid. Uric
merupakan sesuatu yang berasal dari urine atau air
seni. Pada penderita penyakit asam urat, asam urat
akan keluar melalui urine berupa endapan putih dan
pekat. Asam urat adalah zat berupa kristal putih
sebagai hasil akhir atau sisa dari metabolisme protein
dan penguraian senyawa purin dalam tubuh. (
Khasiat
Sakti Tanaman Obat,
2013:2)2.3.2 Paragraf IsiParagraf isi merupakan inti dari sebuah karangan
yang terletak di antara paragraf pembuka dan paragraf
penutup. Di dalam paragraf isi inilah inti pokok pikiran
penulis dikemukakan. Jumlah paragraf isi sangat
bergantung pada luas sempitnya cakupan informasi yang
ingin disampaikan. Yang terpenting adalah ketuntasan
pembahasan pokok pikiran yang dikemukakan.
Dalam paragraf isi ini ada paragraf yang merupakan pengembang dari pokok pikiran, ada pula yang
berperan sebagai transisi atau peralihan gagasan. Paragraf
pengembang berfungsi menerangkan atau menguraikan
gagasan pokok karangan. Paragraf pengembang ini
berfungsi (1) menguraikan, mendeskripsikan, membandingkan, menghubungkan, menjelaskan, atau menerangkan pokok pikiran; (2) menolak atau mendukung konsep
yang berupa alasan, argumentasi (pembuktian), contoh,
fakta, atau rincian. Sementara itu, paragraf peralihan
merupakan paragraf penghubung yang terletak di antara
dua paragraf utama. Paragraf yang relatif pendek ini
berfungsi untuk memudahkan pikiran pembaca beralih ke
gagasan lain.

78
Contoh paragraf isi:
60) Asam surat memiliki fungsi di dalam tubuh
sebagai antioksidan dan bermanfaat dalam
regenerasi atau peremajaan sel. Namun, asam urat
tersebut harus ada dalam kadar normal. Asam
urat memang secara alami terdapat dalam jumlah
kecil di dalam tubuh kita sebab sel-sel yang mati
melepaskan purin dalam tubuh. Purin inilah yag
kemudian diproses untuk membentuk metabolisme dalam tubuh dan menghasilkan asam urat.
Selain berasal dari sel-sel mati dalam tubuh kita,
purin adalah salah satu jenis zat sebagai penyusun
asam nukleat yang terdapat dalam setiap sel
makhluk hidup, baik hewan maupun tanaman,
juga dalam makanan. Dari makanan yang kita
makan. Secara otomatis, saat makan kita juga
menambah kadar purin ke dalam tubuh sebab zat
purin yang yang ada dari makanan yang kita
konsumsi tersebut berpindah ke dalam tubuh kita.
Asam urat merupakan senyawa yang sukar
larut di dalam air. Normalnya, asam urat itu akan
larut kembali di dalam darah dan disaring oleh
ginjal, lalu dikeluarkan melalui urine. Selain itu,
asam urat juga dikeluarkan melalui feses dan
keringat, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang
keluar melalui urine atau air seni. Fungsi utama
ginjal adalah membuang asam urat yang berlebih
tersebut. Namun, jika terdapat gangguan ginjal
atau fungsi ginjal tidak berjalan dengan baik, ini
akan mengakibatkan asam urat terlalu banyak
(
hiperurisemia) sehingga tidak bisa larut kembali
dalam darah. Akhirnya, asam urat menumpuk dan

79
tertimbun di daerah persendian tubuh dan lamakelamaan akan membentuk kristal. Tumpukan
kristal itulah yang mengakibatkan rasa sakit
berupa nyeri, bengkak, dan meradang. Kristal
tersebut dianggap benda asing oleh tubuh dan
akan dimusnahkan oleh sel-sel kekebalan
(
immune cells). Hal tersbut menyebabkan radang,
bengkak, kemerahan, dan nyeri dalam sendi atau
artritis sehingga disebut sebagai
arthritis goutatau penyakit asam urat atau gout. (Khasiat Sakti
Tanaman Obat,
2013:2)2.3.3 Paragraf PenutupParagraf penutup merupakan simpulan dari pokokpokok pikiran dalam paragraf isi. Tujuan penyajian
paragraf penutup ini adalah agar apa yang tertuang dalam
paragraf-paragraf sebelumnya terkesan mendalam di
benak pembaca. Secara umum fungsi paragraf penutup
dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Paragraf penutup menunjukkan bahwa karangan
sudah selesai.
2. Paragraf ini mengingatkan (menegaskan) kembali
kepada pembaca akan pentingnya pokok pembahasan.
3. Paragraf ini berupaya untuk memuaskan pembaca
untuk mendapatkan pandangan baru.
4. Paragraf ini menyajikan simpulan.
Untuk memberi kesan yang kuat kepada pembaca,
penulis dapat penutup karangan dengan (1) menegaskan
kembali tesis atau ide pokok karangan dengan kata-kata
lain; (2) meringkas atau merangkum gagasan-gagasan
penting yang telah disampaikan; (3) memberikan kesim-

80
pulan, saran, dan proyeksi masa depan; (4) memberikan
pernyataan yang tegas dan kesan mendalam.
Contoh:
61) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa penyakit asam urat adalah penyakit akibat
kelebihan asam urat dalam darah yang kemudian
menumpuk dan tertimbun dalam bentuk kristalkristal pada persendian. Kristal-kristal tersebutlah
yang mengakibatkan radang dan nyeri pada sendi
tersebut. (
Khasiat Sakti Tanaman Obat, 2013:2)
81BAB III
PENGEMBANGAN PARAGRAF
Kalimat-kalimat topik yang merupakan inti gagasan
penulisnya itu harus dikembangkan dengan kalimatkalimat penjelas. Untuk menyelaraskan kalimat-kalimat
dalam paragraf itu, cara yang dapat ditempuh adalah
dengan kata-kata transisi yang berupa konjungsi dan
ungkapan penghubung antarkalimat, mengulang kata-kata
kunci, menggunakan kata ganti, dan mendayagunakan
keterpautan isi. Itu semua dapat disajikan dengan baik jika
penulis menguasai teknik-teknik pengembangan paragraf.
Tiap-tiap kalimat itu merupakan kesatuan kecil
dalam karangan untuk menyampaikan suatu maksud,
sedangkan paragraf merupakan kesatuan yang lebih besar,
yang tersusun dari satu atau lebih kalimat dan merupakan
kesatuan yang utuh untuk menyampaikan suatu gagasan.
Kalimat-kalimat dalam paragraf itu bahu-membahu,
bekerja sama untuk menerangkan, melukiskan, menguraikan, atau mengulas suatu gagasan yang menjadi subjek
dalam paragraf itu, atau tema (jiwa) pembicaraannya.
Sebuah paragraf dikembangkan menurut sifatnya.
Pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan satu pola
tertentu dan dapat pula dengan kombinasi dua pola atau
lebih. Ada beberapa metode pengembangkan paragraf, di
antaranya adalah sebagai berikut.

823.1 KronologiPengembangan paragraf secara kronologi atau
alamiah disusun menurut susunan waktu (
the order of
time
). Pengembangan paragraf secara kronologi ini pada
umumnya dipakai dalam paragraf kisahan (naratif) dengan
mengembangkan setiap bagian dalam proses. Pengembangan itu dilakukan dengan memerikan suatu peristiwa,
membuat atau melakukan sesuatu secara berurutan,
selangkah demi selangkah menurut perturutan waktu.
Susunan itu dapat dikatakan sangat sederhana karena
perincian bahan karangan dilakukan secara berurutan atau
kronologis. Sering terjadi bahwa peristiwa pertama tidak
begitu penting dan menarik sampai seluruh rangkaian
peristiwa berkembang. Di samping itu, susunan logis
mengikuti jalan pikiran bahwa penempatan sesuatu di
belakang memberikan tekanan yang paling banyak.
Sejalan dengan itu, perincian tulisan diatur, semakin ke
bawah semakin memberikan kesan penting, yaitu mulai
kurang penting/menarik sampai ke bagian-bagian yang
paling menarik pada akhir tulisan. Seperangkat kata dapat
digunakan sebagai penanda perturutan waktu itu, seperti
pertama-tama, mula-mula, kemudian, sesudah itu,
selanjutnya
, dan akhirnya.Contoh:(62) Pada Maret 1942, Imamura memasuki
Bandung, tanpa menarik perhatian. Sehari
sesudah itu ia memerintahkan stafnya untuk
mulai menegakkan pemerintahan militer guna
memerintah Pulau Jawa. Kemudian, ia mengadakan inspeksi ke markas besar dari kedua
divisi lain yang masih termasuk dalam tentara
ke-16 yang ia pimpin, yaitu divisi ke-48 di
Fort de Kock (Bukittinggi), Sumatera Tengah,

83
dan divisi ke-8 di Surabaya, yang telah
menduduki Jawa Timur. Pada 12 Maret 1942,
Imamura mendirikan markas besar tentara ke-
16 di Batavia, yang kemudian diberi nama
Djakarta (Jakarta). (Diolah dari
Soekarno:
Biografi 1901—1950
)
Dalam paragraf ini, penulis memaparkan suatu
keadaan setahap demi setahap berdasarkan kronologi atau
urutan waktu. Penulis ingin memaparkan tokoh, Imamura,
mulai saat memasuki kota Bandung hingga pendirian
markas tentara di Jakarta. Pemaparan urutan waktu yang
penulis lakukan dijalin secara sistematis.
3.2 IlustrasiPengembangan paragraf dengan ilustrasi digunakan
dalam paragraf paparan (ekspositoris) untuk menyajikan
suatu gambaran umum atau khusus tentang suatu prinsip
atau konsep yang dianggap belum dipahami oleh pembaca.
Pengembangan paragraf ini biasa digunakan oleh penulis
yang ingin memaparkan sesuatu yang dilihatnya.
Pemaparannya disajikan mengikuti kesan demi kesan yang ditangkap oleh indera penglihatannya. Dengan
mengambil posisi tertentu, pemaparan dimulai secara
berurutan dari benda yang terdekat ke benda yang lebih
jauh/dalam letaknya, dari satu ruang ke ruang lainnya.
Kesinambungan antarbagian yang dipaparkan harus
terjaga agar isi paragraf dapat dipahami dan diikuti oleh
pembaca.
Contoh:
(63) Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun
Gambir, kepadatan penumpang kereta pada
arus mudik semakin hari semakin meningkat.

84
Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada
H-3 Lebaran. Menurut Kepala Stasiun Gambir,
tujuan pemudik yang memanfaatkan moda
transportasi kereta adalah ke kota-kota besar di
Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Solo,
Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Untuk
mengantisipasi lonjakan penumpang, PT KA
telah menambah rangkaian gerbong kereta.
Selain itu, PT KA juga akan mengoperasikan
kereta sapu jagat.
Dalam paragraf ilustrasi suatu keadaan digambarkan
secara objektif. Dalam paragraf 63) itu penulis
memaparkan keadaan yang sebenarnya Stasiun Gambir
menjelang Lebaran. Keadaan Stasiun Gambir itu dijelaskan dengan pemaparan kepadatan calon pemudik yang
meningkat ditambah informasi dari kepala stasiun. Dengan
model pemaparan seperti itu pembaca diharapkan dapat
menangkap informasi yang diinginkan penulis dengan
mudah. Pembaca diharapkan dapat memperoleh gambaran
yang jelas tentang objek yang disampaikan.
3.3 DefinisiPengembangan paragraf ini digunakan apabila
seorang penulis bermaksud menjelaskan suatu istilah yang
mengandung suatu konsep dengan tujuan agar pembaca
memperoleh pengertian yang jelas dan mapan mengenai
hal itu. Istilah dalam kalimat topik dikembangkan dan
dijelaskan dalam kalimat penjelas. Untuk memberikan
batasan yang menyeluruh tentang suatu istilah, kadangkadang penulis menguraikannya secara panjang-lebar
dalam beberapa kalimat, bahkan dapat mencapai beberapa

85
paragraf. Dalam hal itu, prinsip kesatuan dan kepaduan
dalam paragraf harus tetap terjaga.
Definisi merupakan persyaratan yang tepat mengenai arti suatu kata atau konsep. Definisi yang baik akan
menunjukkan batasan-batasan pengertian suatu kata secara
tepat dan jelas.
Dalam pola ini pikiran utama yang mengawali
paragraf dikembangkan dengan memberikan definisi dari
istilah inti dalam pikiran utama. Pengembangan selanjutnya adalah dengan menguraikan hal-hal yang dapat
menjelaskan definisi itu.
Contoh:
(64) Istilah globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di
seluruh dunia melalui perdagangan, investasi,
perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk
interaksi yang lain sehingga batas-batas
suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi merupakan suatu proses ketika antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling
berinteraksi, bergantung, terkait, dan saling
memengaruhi satu sama lain yang melintasi
batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi
mempunyai banyak karakteristik yang sama
dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak
sering menggunakan istilah globalisasi yang
dikaitkan dengan berkurangnya peran negara
atau batas-batas negara.

863.4 AnalogiPengembangan paragraf secara analogi merupakan
pengembangan paragraf dengan ilustrasi yang khusus.
Dalam pengembangan ini diberikan suatu contoh
gambaran yang berbeda, tetapi mempunyai kesamaan,
baik bentuk maupun fungsi, untuk menjelaskan kepada
pembaca tentang sesuatu yang tidak dipahaminya dengan
baik. Pengembangan dengan analogi ini biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang tidak atau
kurang dikenal dengan sesuatu yang dikenal baik oleh
umum. Tujuannya adalah untuk menjelaskan informasi
yang kurang dikenal.
Pengembangan paragraf dengan menganalogikan
sesuatu dengan benda yang sudah diketahui oleh umum
dapat mempermudah pembaca membayangkan objek yang
dilukiskan itu. Penganalogian itu dapat membantu
menanamkan kesan terhadap tokoh yang dilukiskan itu.
Contoh:
(65) Alam semesta berjalan dengan sangat teratur,
seperti halnya mesin. Matahari, bumi, bulan,
dan binatang yang berjuta-juta jumlahnya,
beredar dengan teratur, seperti teraturnya roda
mesin yang rumit berputar. Semua bergerak
mengikuti irama tertentu. Mesin rumit itu ada
penciptanya, yaitu manusia. Tidakkah alam
yang mahabesar dan beredar rapi sepanjang
masa ini tidak ada penciptanya? Pencipta alam
tentu adalah zat yang sangat maha. Manusia
yang menciptakan mesin, sangat sayang akan
ciptaannya. Pasti demikian pula dengan

87
Tuhan, yang pasti akan sayang kepada semua
ciptaan-Nya itu.
Dalam paragraf tersebut, penulis membandingkan
mesin dengan alam semesta. Mesin saja ada penciptanya,
yakni manusia, alam pun pasti ada pula penciptanya. Jika
manusia sangat sayang pada ciptaannya itu, tentu
demikian pula dengan Tuhan sebagai pencipta alam. Dia
pasti sangat sayang kepada ciptaan-ciptaan-Nya itu.
Dalam paragraf berikut ini penulis juga menganalogikan penanganan masalah SARA dengan memegang
sebutir telur. Jika tidak tepat dalam cara memegangnya,
telur itu akan pecah. Begitu pula dengan penanganan
SARA, jika tidak tepat memilih cara atau strateginya,
kemungkinan akan memunculkan konflik antarwarga yang
pada akhirnya dapat memecah belah bangsa ini.
(66) Penanganan masalah SARA memang tidak
mudah dan perlu kehati-hatian. Untuk menanganinya dapat diibaratkan seperti memegang
telur. Kalau terlalu keras memegangnya, telur
itu akan pecah. Namun, kalau terlalu longgar
memegannya, telur itu juga akan pecah karena
akan terlepas dari tangan. Oleh karena itu, kita
harus menanganinya masalah SARA itu secara
tepat dan harus penuh kehati-hatian. Masalah
tersebut jangan sampai membuat kita sebagai
bangsa terpecah-belah.
3.5 Pembandingan dan PengontrasanUntuk memperjelas paparan, kadang-kadang penulis membandingkan atau mempertentangkan hal-hal yang
dibicarakan. Penulis berusaha menunjukkan persamaan

88
dan perbedaan antara dua hal. Yang dapat dibandingkan
atau dipertentangkan adalah dua hal yang tingkatnya sama.
Kedua hal itu mempunyai persamaan dan perbedaan.
Pembandingan dan pengontrasan atau pertentangan
merupakan suatu cara yang digunakan pengarang untuk
menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang,
objek, atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi
tertentu. Dalam pengembangan paragraf ini, pembandingan digunakan untuk membandingkan dua unsur atau
lebih yang dianggap sudah dikenal oleh pembaca, di satu
pihak memiliki kesamaan, sedangkan di pihak lain
mempunyai perbedaan. Pengembangan paragraf dengan
pengontrasan bertolak dari adanya dua unsur atau lebih
yang sama, tetapi menunjukkan ketakserupaan pada
bagian-bagiannya. Bagian-bagian di antara keduanya
sudah pasti berbeda jauh dan tidak sama.
Pengembangan paragraf yang menunjukkan pembandingan pada umumnya ditandai dengan kata-kata
seperti
serupa dengan, seperti halnya, demikian juga,
sama dengan, sejalan dengan,
dan sementara itu.
Sementara itu, pengembangan paragraf yang menunjukkan
pengontrasan pada umumnya ditandai dengan kata-kata
yang mengandung makna pertentangan, seperti
akan
tetapi, berbeda dengan, bertentangan dengan, lain halnya
dengan,
dan bertolak belakang dari.Contoh:
(67) Anak sulungku benar-benar berbeda dengan
adiknya. Wajah anak sulungku mirip dengan
ibunya, sedangkan adiknya mirip dengan saya.
Dalam hal makan, sulit membujuk si Sulung
untuk makan. Ia hanya menyenangi makananmakanan ringan seperti kue, sedangkan adiknya hampir tidak pernah menolak makanan

89
apa pun. Namun, dalam minum obat mereka
justru bertolak belakang. Si Sulung sangat
mudah minum segala obat yang diberikan
dokter, sedangkan adiknya harus dibujuk
terlebih dulu agar mau meminumnya.
Dalam paragraf ini penulis ingin memaparkan
sebuah informasi dengan cara membandingkan dua hal
yang mempunyai kemiripan dan mengontraskan dua hal
yang menunjukkan perbedaan. Paragraf (67) dikembangkan dengan cara mengontraskan sifat yang dimiliki
dua orang. Penulis mengontraskan anak sulung dan
adiknya dalam hal wajah, kebiasaan makan, dan dalam hal
minum obat. Dalam paragraf itu penulis hanya menampilkan kekontrasannya, tanpa membandingkan kesamaannya. Meskipun begitu, cara pengembangan paragraf
seperti itu dapat memudahkan pembaca memahami konsep
yang dimaksudkan penulis.
3.6 Sebab-AkibatDalam pengembangan sebab-akibat, hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab-akibat.
Dalam pengembangan ini, suatu paragraf mungkin berupa
satu
sebab dengan banyak akibat atau banyak sebabdengan satu akibat. Sebab dapat berfungsi sebagai pikiran
utama dan
akibat sebagai pikiran penjelas, atau dapat juga
sebaliknya. Jika
akibat merupakan pikiran utama, untuk
dapat memahaminya perlu dikemukakan sejumlah
penyebab sebagai perinciannya.
Sebab-akibat sebagai
pikiran utama dapat ditempatkan pada bagian permulaan
atau bagian akhir paragraf. Pengembangan ini dipakai
dalam tulisan ilmiah atau keteknikan untuk berbagai
keperluan, antara lain, untuk (1) mengemukakan alasan

90
yang masuk akal, (2) memerikan suatu proses, (3) menerangkan mengapa sesuatu terjadi demikian, dan (4)
meramalkan runtunan peristiwa yang akan datang.
Contoh:
(68) Banyak sekali kasus penebangan hutan liar
yang terjadi dalam 10 tahun belakangan.
Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai
aturan untuk menghukum para penebang liar.
Namun, faktanya penebangan liar terus terjadi
sehingga merugikan banyak pihak. Akibat dari
penebangan liar itu tanah tidak mampu
menyerap air dengan baik dan juga tanah tidak
ada lagi yang mengikat. Oleh karena itu, tiap
datang musim hutan selalu terjadi bencana
banjir dan juga tanah longsor.
Paragraf 68) tersebut diawali dengan sebab, yaitu
perincian tentang terjadinya peristiwa. Penulis memulainya dengan memaparkan keadaan sesungguhnya yang
terjadi disertai alasan yang mendukung. Pada bagian akhir,
penulis baru menyimpulkan dalam bentuk kalimat topik.
Simpulan itu merupakan akibat yang ditimbulkan oleh
uraian-uraian khusus sebelumnya.
3.7 Pembatas Satu Per Satu/ContohSebuah generalisasi yang terlalu umum sifatnya
harus diuraikan dengan penjelasan. Agar dapat memberikan penjelasan kepada pembaca, kadang-kadang penulis
memerlukan contoh-contoh yang konkret.
Pengembangan paragraf dengan pembatas satu per
satu atau contoh kalimat digunakan untuk memberikan
penjelasan kepada pembaca karena gagasan utama kalimat
topik masih dianggap terlalu umum sifatnya. Dalam

91
kalimat penjelas, gagasan utama dalam kalimat topik itu
diuraikan dengan memberikan contoh-contoh konkret.
Dalam pengembangan paragraf ini, pikiran utama
dikembangkan dengan penjelas yang berupa contoh.
Contoh itu kemudian diuraikan dengan berbagai keterangan yang dapat memperjelasnya. Dengan contoh yang
diuraikan dengan penjelas-penjelas itu pembaca dapat
lebih mudah memahami isi paragraf. Sumber pengalaman
sangat efektif untuk dijadikan contoh, tetapi sebuah contoh
sama sekali tidak berfungsi untuk membuktikan pendapat
seseorang. Contoh dipakai sekadar untuk menjelaskan
maksud penulis.
Contoh:
(69) Dalam hidup sehari-hari kita perlu menyisihkan waktu untuk bermain dan beristirahat.
Kamu dapat melakukan apa saja seperti
menonton televisi, membaca buku dan majalah, bermain layang-layang, bermain bulu
tangkis, atau apa pun sesuai dengan kesukaanmu. Pilihlah hiburan yang sehat, yaitu
sesuatu yang membawa manfaat dan tidak
membahayakanmu. Lakukan pada waktu dan
tempatnya. Saat belajar, belajarlah dengan
sungguh-sungguh. Saat bermain, bermainlah
dengan sepenuh hati.
Paragraf tersebut dikembangkan dengan menggunakan pola contoh. Untuk menguatkan pernyataan yang
tertuang dalam kalimat topik, penulis menjelaskannya
dengan contoh. Penulis memaparkan contoh waktu
pemanfaatan istirahat dan waktu bermain. Dengan cara itu
pembaca dimudahkan untuk memahami konsep yang
hendak disampaikan penulis.

923.8 RepetisiPengembangan paragraf dengan pengulangan sering
digunakan untuk mengingatkan kembali pada pokok
gagasan dan menguatkan pokok bahasannya. Pokok
bahasan yang dikemukakan pada awal paragraf diulangi
pada akhir paragraf sebagai simpulan. Jadi, jika kata atau
gugus kata pada sebuah kalimat diulang pada kalimat
berikutnya, pembaca diingatkan kepada informasi yang
pernah dibacanya.
Dalam pengembangan paragraf secara repetisi ini,
sebuah pokok bahasan ditampilkan secara berulang pada
kalimat berikutnya. Cara pengembangan dengan pengulangan ini juga dapat dimaksudkan untuk menekankan
pokok persoalan atau pokok bahasan dalam paragraf itu.
Contoh:
(70) Di seluruh dunia,
manusia memerlukan kebutuhan yang sama. Manusia memerlukan udara
segar dan air yang bersih.
Manusia juga
memerlukan tanah yang sehat dan aman untuk
bercocok tanam. Semua itu telah tersedia di
bumi kita yang kaya ini. Namun, mengapa
semua itu sekarang sulit kita dapatkan?
3.9 KombinasiPengembangan paragraf juga dapat dilakukan
dengan mengombinasikan beberapa metode pengembangan. Pengembangan ini dapat dilakukan dengan
memadukan repetisi, terutama repetisi kata-kata kunci atau
kata ganti dengan analogi. Pengembangan paragraf dengan
kombinasi ini paling sering digunakan oleh penulis untuk
menuangkan gagasan-gagasannya. Cara pengembangan ini
memang paling mudah dilakukan.

93
Contoh:
71) Aku pernah mengalami peristiwa banjir di
lingkunganku. Peristiwa itu terjadi setahun yang
lalu. Hari itu aku bersiap-siap ke sekolah. Namun,
hujan belum juga reda. Hujan sudah turun sejak
kemarin sore tanpa henti. Itu hujan terlama setelah
kemarau panjang. Sudah dua minggu hujan selalu
turun setiap hari,
tetapi tidak sederas dan selama
malam itu. Aku segan untuk berangkat. Namun,
ayah dan ibu sudah bersiap-siap ke kantor. Ayah
akan mengantarkanku terlebih dahulu.
Pada contoh tersebut, pengembangan paragraf
dilakukan melalui kombinasi. Pada contoh itu pengembangan dilakukan dengan cara pemanfaatan kata ganti
takrif
itu pada peristiwa itu yang mengacu pada peristiwa
banjir di lingkunganku.
Pemakaian kata ganti takrif itu
dikombinasi dengan penggunaan konjungsi adversatif
yang menyatakan makna perlawanan.

94BAB IV
PERNALARAN
Pernalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari
pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Dalam proses
berpikir itu seseorang menghubung-hubungkan data atau
fakta hingga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta
itu kemudian dinalar dan data yang dinalar itu boleh benar
dan boleh tidak benar. Seseorang akan menerima data atau
fakta yang benar dan menolak data yang tidak benar.
Berdasarkan pengamatan yang sejenis, juga akan
terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis. Berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau proposisi yang
dianggap benar, orang akan menyimpulkan sebuah
proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
menghubungkan sejumlah pengamatan seperti itulah yang
disebut menalar.
Dalam penulisan paragraf, ada dua pola pernalaran
yang biasa digunakan, yaitu pola pernalaran induktif dan
pola pernalaran deduktif.
4.1 Pernalaran InduktifPernalaran induktif adalah suatu proses pernalaran
untuk menarik simpulan berupa prinsip atau sikap yang
berlaku umum berdasarkan fakta, asumsi, atau andaian

95
yang bersifat khusus. Pernalaran induktif ini berpangkal
pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan, teori, atau
kaidah yang berlaku umum. Hal yang umum itu berupa
generalisasi, simpulan, atau rampatan. Paragraf berikut ini
menunjukkan penyimpulan berdasarkan fakta.
(72) Dua tahun terakhir ini, tepatnya sejak
suaminya meninggal dunia, Ny. Rosi sering
sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter untuk
memeriksakan penyakitnya. Harta peninggalan
suaminya semakin menipis untuk membeli
obat dan biaya pemeriksaan yang tidak bisa
ditanggung Askes serta untuk biaya hidup
sehari-hari bersama tiga orang anaknya.
Apalagi ketiga anaknya masih memerlukan
banyak biaya untuk sekolah. Anak sulung dan
adiknya masih kuliah di sebuah perguruan
tinggi swasta, sedangkan anak bungsunya
masih duduk di bangku SMA. Sungguh berat
beban hidup Ny. Rosi.
Ada tiga jenis pengambilan simpulan berdasarkan
pernalaran induktif ini, yaitu dengan analogi, generalisasi,
dan hubungan kausal (sebab-akibat).
4.1.1 Pernalaran Induktif AnalogiPernalaran induktif analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogi
dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dua
hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian
berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu simpulan.
Dengan kata lain, analogi merupakan suatu proses yang

96
bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama
lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah simpulan.
Titik tolak pernalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal sehingga simpulannya akan
menyiratkan bahwa
yang berlaku pada satu hal, akan pula
berlaku untuk hal lainnya
. Dengan demikian, dasar
simpulan pernalaran ini merupakan ciri pokok atau esensi
dari dua hal yang dianalogikan.
Contoh:
(73) Dalam riset medis, para peneliti mengamati
berbagai efek dari bermacam bahan melalui
eksperimen binatang seperti tikus dan kera,
yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan
karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian
itu akan ditarik simpulan bahwa efek bahanbahan uji coba yang ditemukan pada binatang
juga akan terjadi pada manusia.
4.1.2 Pernalaran Induktif GeneralisasiGeneralisasi merupakan suatu proses pernalaran
yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang
serupa untuk menarik simpulan mengenai semua atau
sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Jumlah data atau
peristiwa khusus yang dikemukakan harus mencukupi dan
dapat mewakili. Generalisasi diturunkan dari gejala-gejala
khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi,
wawancara, atau studi dokumentasi. Sumber data itu dapat
berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, dan
peristiwa-peristiwa di sekitar kita, seperti politik, sosial
ekonomi, atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa
khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian,
keyakinan, atau perasaan tertentu.

97
Generalisasi dibedakan atas generalisasi sempurna
dan generalisasi tidak sempurna. Dalam generalisasi
sempurna, seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan itu diselidiki. Generalisasi semacam ini
memberikan simpulan yang sangat kuat. Sementara itu,
generalisasi tidak sempurna merupakan generalisasi
berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan
simpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diselidiki.
Contoh:
(74) Pemerintah telah menjadikan Pulau Komodo
sebagai habitat pelestarian komodo. Di Ujung
Kulon, Banten, pemerintah membuat cagar
alam untuk pelestarian badak bercula satu.
Selain itu, sejumlah undang-undang dibuat
untuk melindungi hewan langka dari incaran
pemburu. Banyak cara yang telah dilakukan
pemerintah untuk melestarikan hewan-hewan
langka.
Contoh paragraf (74) dapat dikategorikan sebagai
generalisasi sempurna kualitatif. Data dan fakta yang
menjadi dasar pengambilan simpulan diselidiki dan benar
bahwa keadaan atau peristiwa yang terjadi di kawasankawasan yang dimaksud dalam paragraf itu benar-benar
ada dan nyata. Sementara itu, pada paragraf (75) simpulan
diambil berdasarkan jajak pendapat. Hasil jajak pendapat
yang mengambil sampel dari beberapa orang dari
beberapa komponen masyarakat dijadikan sebagai alat
untuk mengambil simpulan.

98
(75) Beberapa waktu yang lalu sebuah lembaga
survei mengadakan jajak pendapat kepada
berbagai kalangan masyarakat guna menanggapi rencana kenaikan harga BBM. Hasil jajak
pendapat tersebut menyatakan bahwa 70%
pengemudi tidak setuju, 25% menyatakan
setuju, dan 5% tidak menjawab. Sebesar 60%
ibu rumah tangga menyatakan tidak setuju,
27% menyatakan setuju, dan 13% tidak
menjawab. Sebesar 50% karyawan menyatakan tidak setuju, 45% menyatakan setuju, dan
5% tidak menjawab. Berdasarkan data itu
dapat dikatakan bahwa sebagian besar
masyarakat tidak menyetujui rencana kenaikan
BBM.
4.1.3 Pernalaran Induktif Hubungan Sebab-Akibat
(Kausal)
Hubungan kausal merupakan bentuk pernalaran
yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Pernalaran induktif melalui hubungan sebabakibat adalah pernalaran yang bertolak dari hukum
kausalitas bahwa semua peristiwa di dunia ini terjadi
dalam rangkaian sebab akibat. Di dunia ini tidak ada suatu
kejadian pun yang muncul tanpa penyebab dan tidak ada
satu pun gejala terjadi tanpa sebab.
Dalam kehidupan
sehari-hari, terutama
dalam dunia ilmu pengetahuan,hubungan kausal ini sering kita temukan, misalnya antara
hujan turun dan jalan becek atau antara seseorang yang
menderita penyakit kanker darah dan meninggal dunia.
Keduanya ada hubungan sebab akibat.

99Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini,
terdapat tiga hubungan antarmasalah, yaitu sebab-akibat,
akibat-sebab, dan akibat-akibat.
a. Hubungan Sebab-AkibatDalam hubungan sebab-akibat ini polanya adalah A
menyebabkan B. Namun, A juga dapat menyebabkan B,
C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristi
wa
dianggap menjadi penyebab lebih dari satu keadaan.
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan
kemampuan pernalaran seseorang untuk mendapatkan
simpulan pernalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu
penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang
nyata.
Contoh:
(76)
Menjadi sarjana merupakan dambaan banyak
orang. Sebagian besar orang tua, bukan hanya
yang berpandangan tradisional, menganggap
bahwa seorang sarjana memiliki pengetahuan
luas. Sarjana juga dapat meningkatkan gengsi
keluarga. Dengan menjadi sarjana, seseorang
akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Orang yang bergelar sarjana diyakini hidupnya
lebih layak.
b. Akibat-SebabHubungan akibat-sebab merupakan kebalikan dari
hubungan
sebab-akibat. Dalam hubungan akibat-sebab ini
suatu keadaan atau kondisi merupakan akibat dari
serangkaian atau berbagai peristiwa. Hubungan
akibatsebab ini dapat kita lihat pada peristiwa, misalnya,
seseorang yang pergi ke dokter.
Ke dokter merupakan
100akibat dan sakit menjadi sebab. Dalam pernalaran akibatsebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan. Contoh:
(77)
Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus
ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya
terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa,
tetapi sudah berani menggunakan senjata
tajam. Remaja yang telah kecanduan obat-obat
terlarang tidak segan-segan merampok, bahkan
membunuh. Hal itu, selain disebabkan oleh
kurangnya perhatian dari orang tua, juga
disebabkan oleh adanya pengaruh dari
lingkungan masyarakat serta pengaruh televisi
dan film.
Pada contoh (77) tersebut, tiga kalimat terdahulu merupakan akibat. Sementara itu, yang menjadi sebab dari
munculnya permasalahan adalah pernyataan dalam kalimat terakhir, yaitu
hal itu, selain disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orang tua, juga disebabkan oleh
adanya pengaruh dari lingkungan masyarakat serta
pengaruh televisi dan film
. Pernyataan yang merupakansebab tersebut sekaligus merupan simpulan.c. Akibat-AkibatDalam hubungan akibat-akibat, sebuah peristiwa
atau keadaan langsung disimpulkan akibat yang ditimbulkannya. Seseorang langsung menghubungkan peristiwa
tersebut dengan peristiwa atau kejadian yang mengakibatkannya meskipun tidak disebutkan dalam pernyataan.
Dengan kata lain, dalam pernalaran ini suatu
akibat sudah
menyiratkan
penyebabnya. Suatu kejadian atau peristiwa
101yang merupakan akibat langsung disimpulkan pada suatu
akibat yang lain.
Contoh:
(78) Sepulang dari menghadiri undangan, Pak Jony
melihat tanah di halamannya becek. Pak Jony
langsung menyimpulkan bahwa kasur yang
dijemur di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam kasus itu, penyebab
tanah di halamannya becektidak ditampilkan, yaitu hari hujan.4.2 Pernalaran DeduktifPernalaran deduktif merupakan proses pengambilan
simpulan berdasarkan hal-hal khusus. Proses pernalaran
ini disebut deduksi. Dalam pernalaran deduktif ini,
simpulannya dibentuk dengan cara deduksi, yaitu dimulai
dari hal-hal umum menuju ke hal-hal yang khusus atau
yang lebih rendah. Dengan kata lain, proses pembentukan
simpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil
atau hukum menuju ke hal-hal yang konkret.
Penarikan simpulan secara deduktif ini dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung.
Simpulan tidak langsung ditarik dari satu premis
(pernyataan)
Contoh: Semua ikan berdarah dingin (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan
(simpulan)
Contoh tersebut merupakan salah satu bentuk
pengambilan simpulan berdasarkan satu premis. Sementara itu, suatu simpulan tidak langsung ditarik dari dua
premis, yakni premis pertama yang bersifat umum dan

102
premis kedua yang bersifat khusus. Dalam penarikan
simpulan secara tidak langsung ini, diperlukan adanya satu
premis yang berupa pengetahuan umum yang sudah
diketahui oleh semua orang, seperti
semua manusia akan
mati
dan semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi.
Ada dua jenis pernalaran deduktif dengan penarikan
simpulan tidak langsung, yaitu silogisme dan entimen.
4.2.1 SilogismeSilogisme digolongkan sebagai penyimpulan deduktif tidak langsung. Dalam silogisme ini penyimpulan
pengetahuan yang baru diambil secara sistematis dari dua
permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu.
Silogisme disebut juga cara menarik simpulan dari premispremis umum dan khusus. Dalam silogisme ini, suatu
proses pernalaran menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah simpulan
yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya
atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di
dalamnya.
Silogisme adalah rangkaian tiga pendapat, yang
terdiri atas dua pendapat dan satu simpulan. Tiga pendapat
dalam silogisme tersebut adalah premis mayor, premis
minor, dan simpulan. Premis merupakan proposisi yang
menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme yang merupakan
generalisasi atau proposisi yang dianggap benar bagi
semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor
mengandung term minor atau tengah dari silogisme dan
berisi proposisi yang mengidentifikasi sebuah kasus atau
peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Simpulan
adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang

103
berlaku bagi seluruh kelas akan berlaku pula bagi anggotaanggotanya.
Silogisme dibedakan atas tiga macam, yaitu (a)
silogisme kategorik, (b) silogisme hipotesis, dan (c)
silogisme alternatif.
Silogisme kategorik adalah silogisme
yang semua proposisinya mempunyai proposisi kategorik. Silogisme ini terdiri atas tiga proposisi, tiga term
(subjek, predikat, dan term penengah), dan simpulan
(konklusi) yang disebut setelah premis-premisnya.
Contoh :
Semua mamalia menyusui anaknya → Premis Mayor
M P
Semua kambing mamalia → Premis Minor
S M
Semua kambing menyusui anaknya → Konklusi
S P
Keterangan:S = Subjek
P = Predikat
M = Term Penengah (
Middle Term)
Dalam silogisme kategorik ini, ada hal yang mesti
diperhatikan. Dua permasalahan baru dapat ditarik simpulannya apabila ada term penengah yang menghubungkan keduanya. Tanpa term penengah, simpulan dari
dua permasalahan tersebut tidak dapat diambil.
Silogisme hipotesis merupakan silogisme yang
premis mayornya berupa keputusan hipotesis dan premis
minornya merupakan pernyataan kategoris.

104
Contoh:
Premis mayor : Jika hari ini tidak hujan, saya akan ke
rumah paman.
Premis minor : Hari ini tidak hujan.
Simpulan : Saya akan ke rumah paman.
Silogisme alternatif merupakan silogisme yang
premis mayornya berupa premis alternatif, premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, dan simpulannya menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Premis mayor : Bambang berada di Bandung atau
Semarang
Premis minor : Bambang berada di Bandung
Simpulan : Jadi, Bambang tidak berada di Semarang
Dalam ketiga jenis silogisme, kebenaran simpulan
diterima apabila premis-premisnya diterima.
4.2.2 Entimen
Entimen
adalah pernalaran deduksi secara langsung
yang premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena
sudah sama-sama diketahui. Dengan kata lain, entiem
merupakan suatu proses penalaran dengan menghilangkan
bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Contoh:
Premis mayor : Semua orang ingin sukses harus belajar
dan berdoa

105
Premis minor : Lisa ingin sukses
Kesimpulan : Lisa harus belajar dan berdoa
Di dalam paragraf, bentuk pernalaran deduktif selalu
diawali oleh pernyataan umum yang merupakan kalimat
topiknya. Kalimat topik itu kemudian diikuti oleh kalimatkelimat penjelas yang berupa data atau fakta dalam bentuk
ciri-ciri, gejala-gejala, atau fenomena khusus. Contoh
paragraf dengan pernalaran deduktif adalah sebagai
berikut.
79) Sampah menyebabkan terjadinya banjir di
Jakarta. Di ibu kota Jakarta sampah-sampah
terlihat berserakan di mana-mana: di jalanjalan, di kali, di dalam parit, dan di sela-sela
trotoar. Hal tersebut sudah merupakan pemandangan umum setiap hari. Dengan banyaknya
sampah di mana-mana, ketika musim Penghujan datang, banjir akan menyerang ibu kota
Jakarta karena saluran-saluran air hujan terhalang oleh sampah. Itu sebabnya banjir akan
selalu menyerang ibu kota apabila tidak
dilakukan penanggulangan sampah.

106DAFTAR PUSTAKAAlwi, Hasan et al. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia
. Jakarta: Balai Pustaka.
Alwi, Hasan (Ed.). 2001.
Bahan Penyuluhan Bahasa
Indonesia: Paragraf
. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Chaplen, Frank. 1974. Paragraf Writing. London: Oxford
University Press.
Heaton, J.B. 1975.
Writing English Language Test (USA:
Longman Handbook, 1975)
Keraf, Gorys. 1982.
Argumentasi dan Narasi. Jakarta:
Gramedia.
Keraf, Gorys. 1982.
Eksposisi dan Deskripsi. Jakarta:
Gramedia.
McCrimmon, James M. 1984.
Writing with A Purpose.Boston: Houghton Mifflin Company.
Ramlan, M. 1993.
Paragraf: Alur Pikiran dan
Perpaduannya dalam Bahasa Indonesia.
Yogyakarta: Andi Offset.
Sakri, Adjat. 1992.
Bangun Paragraf Bahasa Indonesia.Bandung: Penerbit ITB.
Winkler, Anthony C. dan Jo Ray McCuen. 1981.
Rhetoric
Made Plain.
New York: Harcourt Barce Jovanovich.
Widyamartaya, A. 1990.
Seni Menggayakan Kalimat.
Yogyakarta: Kanisius.
Widyamartaya, A. 1990.
Seni Menuangkan Gagasan.
Yogyakarta: Kanisius.
Widyamartaya, A. 1991.
Kreatif Mengarang. Yogyakarta:
Kanisius.